Ketika Musim Nikahan Tiba

August 29, 2019
2 mins

Mungkin karena tahun ini kemaraunya lebih panjang, banyaknya acara pernikahan sungguh terasa. Ya saudara, ya kenalan, tapi masih dalam “kota”. Dalam Bandung maksudnya. Kemarau di tempat kami tiba lebih awal, hujan terakhir turun pada minggu pertama Mei lalu.

Ya sudah deh ya. Cuaca cerah (bahasa orang untuk kemarau) adalah keuntungan juga untuk acara-acara seperti ini. Suami lebih sering ikut mulai dari acara lamarannya, biasanya jadi “penerima tamu” alias nemani keluarga, sebenarnya. Baik di gedung maupun di rumah, harus diakui menikahkan anak perempuan memang lebih banyak naninunya. Banyak perniknya, begitu. Apalagi kalau sudah ada embel-embel “menikahkan pertama kali”, “anak perempuan satu-satunya”, dan sebagainya. Saya tidak begitu ingin terlibat dalam perundingan selera, dekor, dll. Menyenangkan sekali waktu calon pengantin punya “kuasa penuh” dan acaranya hangat/kekeluargaan. Seperti ini.

Pernikahannya sih di kota, tapi hari kerja. Asyik juga melewati ruas jalan yang biasanya padat, pada jam selepas masuk kantor. Belum tentu setahun sekali bisa lihat Buahbatu lowong. Sudah pasti, pulangnya ngider-ngider dulu.

Yang satu ini masih terbilang dekat, hanya saja harus meluncur ke jalan raya alias turun gunung. Banyak orang belum tahu gedung ini karena posisinya agak “menjorok”. Kalau naik mobil ke situ, apalagi akhir pekan, rasanya nggak sampai-sampai:)) Tempatnya luas, nyaman, banyak toilet, dan ada masjid yang cukup besar. Bisa untuk istirahat. Ini pengalaman pertama saya jadi “penggembira” panitia keluarga perempuan sehingga datang dari pagi. Dinginnya jangan ditanya, maka AC di dalam ada yang saya matikan.

Kesempatan bersukaria dengan keluarga juga tercapai di acara ini. Kesukaan anak-anak seperti biasa nonton lengser dan penari, selain foto-foto di aneka pojok yang sudah dihias.

Pernikahan berikutnya sih nganter pengantin lelaki. Bukan nganter sebenarnya, sebab nanti mereka tidak akan tinggal di sana. Malah kesannya “mengambil” karena sang manten perempuan akan ikut suami. Turun gunung juga ke kecamatan sebelah, bertepatan dengan agustusan, jadinya banyak tontonan. Malah bisa dibilang saling nonton, antara rombongan kami dan peserta lomba setempat.

Pulangnya cari-cari jalan tembus, mengenali kecamatan sendiri yang ternyata begitu luas. Ada beberapa hajatan lain, sampai kami dikira nyasar dan dikira akan bertamu ke salah satunya:))

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)