Ketika Kritikus Psikopat Mengancam Penulis

December 26, 2010
4 mins

Judul: Relentless (Tak Kenal Ampun)
Penulis: Dean Koontz
Penerjemah: Nina Setyowati
Editor: Premi Wahyu
Penerbit: Ufuk Press, 2010
Tebal: 552 halaman
ISBN: 9786028801539

“Always, the eye sees more than the mind can comprehend, and we go through life self-blinded to much that lies before us. We want a simple world, but we live in a magnificently complex one, and rather than open ourselves to it, we perceive the world through filters that make it less daunting.”

Bak sekeping uang logam, pena dan kemampuan menulis memiliki dua sisi. Sebagaimana Cullen ‘Cubby’ Greenwich menuangkan ide-ide dalam novel, Shearman Waxx, seorang kritikus yang disegani, menyatakan pendapat dengan caranya tersendiri. Malangnya, novel terbaru Cubby termasuk salah satu yang tidak disukai Waxx. Isi tulisan Waxx tersebut tidak dirinci, namun cukup menyakitkan sehingga Cubby menyebutnya ‘Babi sifilis’. Resensi itu mengandung kesalahan, semisal struktur kalimat yang kacau, dan kekeliruan penyebutan nama tokoh utama novel Cubby.

Apa yang harus dilakukan seorang penulis menghadapi kritik kejam yang tidak benar? Istri Cubby, Penny, yang juga penulis, menyarankan untuk mengabaikannya. Tetapi sang novelis tidak dapat melupakan begitu saja. Bahkan putra tunggal mereka, Milo, menyelidiki kritikus misterius itu. Naasnya, terjadi insiden di kamar mandi kala mereka bertemu. Air seni Milo memerciki lantai, meski tidak sampai menciprati Waxx. Toh, ia tidak terima dan mengucapkan satu kata ancaman, “Doom.”

Bisa diterka, semenjak itu, hidup keluarga Greenwich tidak lagi damai. Mereka harus melarikan diri dan berpindah-pindah setelah rumah diledakkan, sementara informasi mengenai perilaku ganjil Waxx mengalir terus. Cubby bukan satu-satunya penulis yang pernah ia serang. Pengarang lain yang melawan, dengan cara santun sekalipun, mengalami serentetan peristiwa maut sampai keluarganya tak bersisa.

Ciri khas Koontz, menyisipkan fiksi ilmiah, terlihat pada sosok Milo yang istimewa. Usianya baru enam tahun, namun bocah bernama kecil Spooky ini akrab dengan komputer. Kehadiran Lassie, anjing Milo yang fisiknya sama sekali tidak semanis dan sekalem hewan jinak di serial televisi berjudul sama, memperkuat hawa thriller di novel ini. Tengok kiri-kanan bila Anda sudah tiba pada bagian Lassie duduk diam dengan bulu berdiri.

Karakter menarik lainnya ialah Vivian, baby sitter Milo. Usianya sudah lima puluhan, biasa berpakaian serba pink, tetapi tangguh dan sanggup membuat perampok yang dihajarnya trauma melihat warna pink di mana pun. Uniknya lagi, Vivian membaca buku Cubby dan menyukainya. Ia turut andil dalam upaya keluarga Greenwich menyelamatkan nyawa dari kritikus sinting.

Boleh jadi, kesadisan dan tindak kriminal (baca: pembunuhan) yang dipaparkan dalam Relentless membuat Anda mual. Toh, kengerian tidak membuat saya berhenti atau menunda menyelesaikan karya penulis disiplin yang menetapkan jam kerja minimal 10 jam per hari ini. Saya tergelak kala Cubby memberikan kode-kode dan kiasan kepada Penny sebab Milo terlalu kecil untuk mendengar hal sebenarnya, tetapi di luar dugaan, bocah pintar itu mengerti. Intinya, Milo dan Penny bukan karakter dalam film-film horor/thriller jadul yang hanya bisa menjerit-jerit, menyusahkan dan melakukan perbuatan (maaf) bodoh.

Sembari berusaha tidak lupa mengembuskan napas, saya digiring terus untuk menguak pelaku teror mengerikan tersebut. Relentless versi Indonesia akan kian memesona apabila penyuntingan dan penerjemahannya digarap lebih cermat. Acung jempol kepada Vbi Djenggotten sang desainer, sehingga sampul novel ini tetap mengundang penasaran dan tidak kalah elok dengan kulit muka aslinya yang biru menyeramkan.

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.