Kerikil Hidup Harvey Pekar

January 09, 2011
3 mins

Judul: The Quitter (Gampang Menyerah)

Penulis: Harvey Pekar

Ilustrasi: Dean Haspiel dan Lee Loughridge

Penerjemah: Rosemary Kesauly

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 104 halaman

Cetakan: I, Mei 2008

ISBN: 9789792245776

Beli di: HM Books

Harga: Rp 55.000,00

Saya ‘berkenalan’ dengan Harvey Pekar melalui salah satu tulisan cermat Hikmat Darmawan dalam bukunya, Potensi-potensi Naratif Komik. Penulis komik yang berpulang tanggal 12 Juli lalu ini tersohor oleh karyanya yang melawan arus, American Splendor. Tidak seperti seniman komik lain yang melimpahruahi penerbitan buku dengan kisah superhero, Pekar menuliskan otobiografinya.

The Quitter adalah rekaman perjalanan awal Pekar. Kehidupannya yang terbilang sulit sebagai minoritas Yahudi, pengalamannya beberapa kali dihajar warga kulit hitam tanpa alasan. Ia kerap diperlakukan serupa di sekolah. Pekar mencoba meminta saran orangtuanya, yang mengatakan agar ia melapor kepada guru dan hasilnya membuat Pekar cilik berpikir ulang untuk berkonsultasi dengan ayah-ibunya lagi. Menurutnya, orangtua tidak bisa memahami karena hubungan mereka dengan warga kulit hitam dewasa baik-baik saja.

Pekar mengatasi kesukarannya dengan menjadi jagoan dadakan. Ia tidak segan berkelahi, bahkan sekalipun tidak perlu sama sekali. ia frustrasi lantaran tidak cemerlang di sekolah, lemah menghadapi urusan permesinan, galau sebab tidak kunjung mendapat teman wanita, juga tidak menyukai pekerjaannya membantu usaha keluarga. Terdengar seperti pencarian identitas yang melelahkan, khas, dan amat memakan kesabaran? Namun dengan cerdik, Pekar sanggup menyajikan cerita ini tanpa terkesan meratapi nasib secara berlebihan. Ia tetap bersungguh-sungguh mempelajari bahasa Ibrani untuk membuat ayahnya bangga, kendati di kemudian hari hubungan dua orang ini tidak terlalu hangat.

Mencari tahu bidang yang diminati dan cita-cita yang hendak diraih dalam hidup memang tidak dapat terjadi seketika. Itulah yang disampaikan Pekar dalam novel grafis ini. Bagian favorit saya adalah saat ia menikmati pelajaran menulis, dibimbing oleh guru yang memperhatikan potensi besarnya, sehingga perlahan Pekar tumbuh menjadi kritikus buku dan jazz freelance yang prolifik. Ia masih gelisah, cepat mengambil keputusan sehingga nekad berhenti kuliah, suka bermain-main, sekaligus berganti-ganti pekerjaan.

Novel grafis dewasa ini cenderung diliputi suasana kelam, walaupun tidak membuat hati menjadi muram. Justru, dengan caranya sendiri, Pekar menyeruakkan gagasan bahwa inspirasi dan semangat tidak harus muncul dari orang-orang yang memang tekun dan gigih sedari mula. Perjalanannya yang tersaruk-saruk menampilkan potret hidup yang manusiawi, karena pada dasarnya ada saat-saat tertentu manusia merasa kalah dan tidak berarti. Saking realistisnya, Pekar tidak lantas menepuk dada ketika bukunya laku keras dan diangkat ke layar perak. Baginya, perjuangan tidak pernah berakhir.

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.