Keresahan Menyongsong Maut

January 18, 2011
2 mins

Judul: Buddha 4: Hutan Uruwela

Penulis: Osamu Tezuka

Penerjemah: Asha Fortuna

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, 2007

Tebal: 370 halaman

ISBN: 9789799100702

sumber: Goodreads

Luar biasa. Saya menuntaskan buku ini dalam satu setengah jam saja, dan nyaris tidak berkedip.

Raja Magadha resah oleh ramalan kematiannya, saat rakyat merayakan ulang tahunnya. Ia bersahabat dengan Buddha (Siddhartha) yang masih mencari jawaban melalui pertapaan demi pertapaan untuk menepis resah akan kematian dan hidup abadi. Raja Magadha membuang kantung emas berlian ke kolam dan berjanji tidak menyentuhnya sampai Siddhartha kembali.

Akhirnya Siddhartha, Dhepa dan Assaji tiba di Hutan Uruwela untuk menjalani penyiksaan diri. Metode tapa yang paling dibenci Siddhartha karena baginya menggumuli derita adalah sia-sia, sedangkan Dhepa masih memandang mati dalam tapa adalah cara pergi dari dunia yang paling mulia.

Cerita di jilid keempat ini meruntuhkan hati. Seorang bocah sekecil Assaji, yang sudah tahu hari kematiannya sendiri, belajar dari makhluk-makhluk kecil seperti serangga dan hewan sekitar hutan untuk tetap tenang menjalani hidup kendati maut sudah dekat. Deraan pahit takdir masih mengejar Siddhartha, semakin dekat pada pencapain, semakin berat.

Di sini kian terungkap kritik terhadap kaum brahmana yang memuliakan diri, tetapi memecah-belah manusia secara tidak adil dengan sistem kasta. Itu tecermin dari sosok Pangeran Wikhudara, putra mahkota Kosala yang berdarah setengah sudra dan Yatala, gergasi yang marah pada nasib. Buddha 4 menampilkan betapa tragisnya kehidupan mereka yang dipandang hina, dan betapa suburnya bibit kelaliman di dunia. Tepatnya, India masa itu.

Sangat mengharukan, upaya Siddhartha dan Tatta menghormati janji masing-masing. Walaupun sang istri sakit, Tatta tidak mau mencuri. Selain itu, ia tetap mendampingi dan merawat Migaila yang diterjang sakit kulit kronis.

Banyak kematian, banyak duka, banyak kekerasan, menjadikan novel grafis ini teramat kelam. Akan tetapi, banyak pula pelajaran yang membeningkan pikiran dan hati.

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.