Kepadamu, Hai Penulis Bintang Bunting

November 09, 2010
5 mins

Penulis: Valiant Budi

Penerbit: Gagas Media, 2008

Tebal: 340 halaman

ISBN:9789797802578

sumber; Goodreads

 

“Pingkan maju ke depan meja makan dengan bahasa tubuh yang seakan-akan selain makan mi, mereka juga bisa ‘makan’ Pingkan.” (hal. 90)

“leukemia, penyakit yang sering dipakai sutradara untuk membuat iba penonton terhadap karakter cerita yang akan mati cepat.” (hal. 132)

Kepada Valiant Budi,

sungguh peristiwa langka aku naksir buku berdasarkan penampilan fisiknya lebih dahulu. Sejak menemukan perbincangan di google dan sejumlah blog mengenai novelmu ini, judulnya saja sudah menyiratkan pertanyaan [baca: kepenasaranan] di benakku. Bintang Bunting, berdenting-denting. Aku sudah mulai menyusuri toko buku, sampai terbungkuk-bungkuk di setiap rak tapi tak ketemu. Jelas saja, lha wong ndak tahu kavernya kayak gimana..malah nekat menelusur. Sungguh pembeli buku yang payah..

Oleh karena itu, aku sangat bahagia tak terkira sewaktu seorang sahabat menghadiahkan novel keduamu ini. Katanya: kavernya Mbak Rini banget, misterius tapi feminim [feminin maksudnya:]. Entah dari mana dia dapat kesimpulan itu, tapi yang jelas..aku langsung terpesona pada sampul BB ini.

Valiant, layout dalam buku menyedotku untuk terus membaca. Paragraf awalnya, sarat hal-hal yang ingin kusimak lebih jauh padahal biasanya aku selalu melompati deskripsi. Tapi bahasa yang kau gunakan, banyaknya aksi, membuat plot bergerak terus dan tak pernah membosankan. Aku terus mencari tahu, siapa si Bintang dan kenapa dia bunting? Padahal jelas di depan, kau sudah tulis: Kalo kamu pikir Bintang Bunting menceritakan seorang gadis cilik bernama Bintang dan hamil di luar nikah, maaf..kamu salah.

Aku menyukai selera humormu. Takarannya begitu pas, tidak kelewat pedas, tidak kelewat pahit, tapi membuatku terkikik dan terbahak di berbagai kesempatan. Oke, ini bukan novel humor meskipun Gagas Media terkenal dengan produksi bergenre itu. Namun melalui Adam, Audine, Raeli, dan Mada, aku tersadar bahwa betapa banyak hal yang bisa ditertawakan dalam hidup..termasuk menyangkut diriku sendiri. Salah satu contohnya, soal Engko Hasan yang ‘menelaah’ pantat Raeli.

Valiant yang baik,

aku menyukai diksimu yang kaya dan meriah. Walau setting dan ide dasar cerita BB berkisar metropolitan dan anak muda masa kini, kau pintar memilah frase. Misalnya ‘mi, makanan tanpa identitas rasa’ atau seperti kalimat dialog di bawah ini:

“Kita memang terbiasa buat menyediakan masalah. Masalah itu kayak air yang mengaliri setiap rongga-rongga cetakan es yang siap menjadi es batu.” (hal.29)

Valiant,

aku belajar karakterisasi. Audine yang tak dapat membedakan mimpi dengan kenyataan, Raeli yang seakan terobsesi kematian, Adam yang dibuat sinting oleh pekerjaan di biro iklan dan Pingkan [asistennya?:] yang malah menambah tekanan itu dengan ketidaknyambungan otaknya di banyak kesempatan, Mada si peramal misterius, bahkan Kerto yang tak boleh dipandang sebelah mata karena dialah teman dialog Raeli yang cukup bermutu. Aku menyimak pula ucapan Om Harry mengenai keimanan, sambil terus mengamati bintang-bintang yang selalu menemani Audine ketika ia tersentak dari mimpi yang mengejutkannya.

Awalnya, aku menduga Raeli seperti benang lepas. Namun perannya di cerita tak terbantahkan. Dialog-dialog para karakter di sini menunjukkan bahwa anak muda tidak selalu omong kosong dan berotak melompong, tapi peduli pada banyak persoalan sampai ke dicoretnya Pluto dari daftar planet segala. Kalau boleh memilih, karakter favoritku adalah Raeli. Aku sangat menyenangi pernyataannya mengenai surga dan neraka, yang akan kuingat baik-baik. Beberapa hal dalam dirinya mirip kepribadianku, kecuali paranoidnya terhadap kuman.

Meski BB adalah bukti kerjasama penulis dan editor yang harmonis, Valiant, ada juga terpelesetnya. Di halaman 95, adegan parkir, Audine menjadi Raeli di satu paragraf.

Satu hal yang sangat menggedor, tebakanku di akhir cerita meleset.

Aku setuju dengan pendapat Panji dan Gamila di kaver belakang: Bintang Bunting menyeruak dari gelapnya rimba tulisan yang monoton di Indonesia.

Valiant, pendek kata..aku iri sekaligus bangga pada penulis muda berpotensi besar dan bertalenta sepertimu. Teruslah berkarya, dan semoga aku dapat menemukan Joker yang mengantarkanmu ke kursi nominator Khatulistiwa Literary Award tahun 2007.

Semoga genre thriller yang kulekatkan pada Bintang Bunting tidak membuat calon pembaca alergi, karena toh gayamu mengolahnya adalah sesuatu yang baru dan tidak patut dilewatkan.

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.