Judul: The Girl With the Dragon Tattoo

Penulis: Stieg Larsson

Penerbit: Qanita

Tebal: 780 halaman

Cetakan: I, Juli 2009

Harga: Rp 79.500,00

ISBN: 978-602-8579-00-1

Apa yang diharapkan pembaca dari sebuah buku thriller? Tentu saja ketegangan yang terjaga dari bab ke bab. Sebagaimana dikutip dari Alfred Hitchcock, “to put their toe in the cold water of fear to see what it’s like.”

Selaku novel crime thriller, The Girl With The Dragon Tattoo membidik sudut pandang seorang jurnalis dalam penyidikan suatu kasus dan bukan detektif swasta. Mikael Blomkvist, wartawan sekaligus anggota tim penerbit majalah Millennium, didakwa atas pencemaran nama baik seorang pengusaha yang dinilainya korup dalam sebuah artikel, Hans-Erik Wennerström. Demi kelangsungan hidup majalahnya, yang memang sudah tersengal-sengal secara finansial, Blomkvist mundur dari Millennium dan menerima tawaran usahawan besar lain, Henrik Vanger, untuk menyelidiki keponakannya yang raib empat puluh tahun silam, Harriet Vanger.

Blomkvist dikontrak selama satu tahun untuk tinggal di Hedestad, berdekatan dengan pemukiman keluarga Vanger. Investigasi ini harus diselubungi sedemikian rupa mengingat Henrik tidak memercayai sebagian besar anggota keluarganya, maka Blomkvist mengaku tengah menggarap autobiografi Henrik dan bertindak sebagai penulis bayangan. Lantaran duduk selaku ‘mata’ lain Henrik, ia terpaksa terlibat dalam intrik keluarga pengusaha yang sedikit-banyak merupakan kerabat jauhnya itu. Bahkan Harriet, keponakan tercinta Henrik yang membuatnya gila ketika menghilang tanpa jejak itu, pernah mengasuh dan menjadi teman sepermainan Blomkvist kecil. Selama empat puluh tahun, Henrik sukar menghapus ingatan akan gadis yang dianggapnya anak sendiri tersebut sebab selalu menerima karangan bunga khusus pada hari jadinya.

Siapakah yang dirujuk sebagai Girl With The Dragon Tattoo? Dia tak lain Lisbeth Salander, yang salah satu ucapannya dinukil di halaman muka buku bersampul merah darah ini. Gadis yang tubuhnya dihiasi beraneka tato, tidak hanya bentuk naga, tersebut adalah salah satu penyidik terandal di Milton Security. Atasannya, Dragan Armansky, menugaskan Lisbeth menangani permintaan Dirch Frode, pengacara Henrik Vanger, untuk mengetahui informasi seputar Blomkvist sebelum menyewanya. Dari tangan dingin Lisbeth, yang diam-diam piawai hacking, terhampar laporan sangat terperinci menyangkut jurnalis yang pernah menyentak masyarakat dengan bukunya tersebut. Bahkan Lisbeth menyingkap hubungan ganjil Blomkvist dengan Erika Berger, editor Millennium yang sudah menikah dan dapat menjalin affair tersebut tanpa perlu main belakang dari suaminya.

Dua karakter sentral ini menjadi kombinasi yang berbobot sama memukaunya. Lisbeth Salander, seorang anak yatim yang berperawakan mirip remaja usia lima belas tahun, divonis terbelakang secara mental sehingga harus bergantung pada perwalian dan pengampu. Naas baginya, Palmgren yang memperlakukan gadis ini secara manusiawi mendadak meninggal. Lisbeth limbung, sebab pengampu penggantinya adalah Advokat Bjurman, musang berbulu domba. Bukan saja keleluasaan Lisbeth mengatur keuangan dibatasi ketat, ia juga dilecehkan secara seksual oleh pria pengidap masokis itu. Tetapi bukan Lisbeth bila ia tinggal diam, dan caranya membuat jera Bjurman adalah satu dari segudang kemenarikan novel ini.

Sisi lain yang membuat sosok Lisbeth tidak sekadar eksentrik, ialah kekaribannya dengan teknologi. Sebagai karyawan lepas perusahaan jasa keamanan, ia sangat akrab dengan piranti serba canggih dan tangkas pula menggunakannya. Berbekal ingatan fotografis, Lisbeth yang dicap asosial ini menjalankan berbagai tugas akan tetapi Armansky selaku atasan tidak pernah mengetahui cara kerjanya. Si gadis selalu berpikir seribu kali untuk meminta nasihat, walaupun ia sadar Armansky menginginkan uluran persahabatan, sebab menurutnya membuka diri berarti menaruh kepercayaan dan itu amat berisiko. Uniknya lagi, komputer adalah satu-satunya barang mewah dalam kehidupan Lisbeth. Stieg Larsson memanjakan pembaca yang gemar teknologi dengan memaparkan detail iBook beserta aneka perangkat lain yang membuat terkagum-kagum sekaligus menangis termimpi-mimpi [jika belum memilikinya].

Melalui Blomkvist, penulis mengutarakan segelontor kritik terhadap dunia jurnalistik. Sebut saja, di antaranya, bahwa para wartawan bertanggung jawab atas kekorupan seseorang yang tak kunjung terbongkar. Di adegan persidangan awal, Blomkvist menyenyumi reporter yang menyampaikan pertanyaan dangkal. “..Blomkvist menulis betapa ia sendiri sering merasa malu disebut wartawan keuangan, karena itu akan membuatnya disamakan dengan segerombolan orang yang menurutnya tidak pantas disebut wartawan.” [hal. 140]. Duda satu anak ini toh memiliki hati yang hangat, sehingga ia dapat menolerir obsesi Henrik akan keponakan terkasihnya yang dianggap tiada, amarah Erika, dan mampu bersikap menyamankan Lisbeth kala mereka menjadi mitra dalam penyidikan yang kian menguak titik terang sekaligus diendus maut.

Henrik Vanger sendiri bukan tipikal lansia yang rapuh. Dengan ilmu bisnisnya beserta jam terbang melimpah, ia menyisipkan nasihat-nasihat untuk Blomkvist meski tidak sampai mencampuri urusan pribadi. “..jangan terlibat perkelahian jika sejak awal engkau sudah tahu bakal kalah. Tapi di sisi lain, jangan pernah membiarkan orang yang menghinamu kabur begitu saja. Cari kesempatan dan lakukan serangan balik apabila posisimu kuat – bahkan jika pada saat itu kau sebenarnya tidak perlu menyerang balik.” [hal. 214]. Tak diragukan lagi, keberadaan Henrik mengukuhkan aroma thriller The Girl With The Dragon Tattoo agar meruap dari segala penjuru.

Dari berbagai aspek, novel yang menyabet sederet penghargaan ini [antara lain Glass Key Award tahun 2006 untuk versi Swedianya] merupakan fiksi yang berisi. Bukan semata dicekam kengerian atau diajak berteka-teki, pembaca disuguhi arus informasi mengenai politik, usaha, teknologi, sampai sekte-sekte Kristen. Setiap kali hendak menerka, sub plot mengombang-ambing pada keraguan sedangkan proses penyidikan Blomkvist dan Salander, yang kadang menyertakan data dari kepolisian pula, dipaparkan runut tanpa menjerumuskan pada kejenuhan. Kendati latar cerita relatif tidak populer, yakni Swedia, pengarang membantu dengan menyelipkan sebutan Kalle Blomkvist yang sangat tidak disukai Mikael guna menggiring pembaca pada karya-karya penulis Swedia tersohor seperti Astrid Lindgren. Amat tercermin bahwa karakter-karakter The Girl.. adalah hobiis membaca, sehingga kisahnya bertambah gurih dan kaya.

Bersinarnya semua unsur di atas mengelamkan beberapa kekurangan novel perdana trilogi Blomkvist dan Salander ini [menurut aslinya, trilogi Millennium]. Terkadang Henrik disebut Vanger pada paragraf yang berdekatan, Mikael dan Blomkvist pun demikian. Namun agaknya itu tergambar dalam buku asli kendati berpotensi membingungkan pembaca. Penerjemah dan penyunting acap kali menggunakan kata ganti ‘ia’ yang terasa janggal pada sejumlah dialog. Tetapi meskipun dialihbahasakan bukan dari Swedia [dengan judul orisinal Män som hatar kvinnor atau Men who hate women)], melainkan Inggrisnya, lompatan budaya tidak terasa. Selain itu, liukan cantik gunting editor pada adegan-adegan seks [berdasarkan informasi dari kenalan yang membaca versi aslinya] menjadi nilai tambah besar sehingga pembaca yang sudah tegang tidak perlu menjadi jeri.

Menyoal Stieg Larsson, daya pikat lain mengemuka. Pria tersebut seorang jurnalis dan editor sebuah majalah, dan menuliskan novel ini sebagai penyegaran selepas kerja rutin tanpa bermaksud memublikasikannya. Tepat tatkala ia baru mengirimkan naskah trilogi ke penerbit, Larsson terkena serangan jantung dan meninggal. Namanya menjadi harum oleh karya memesona ini, diganjar International Author of the Year oleh ITV3 Crime Thriller Award tahun 2008. Pada tahun yang sama, ia menjadi penulis laris kedua setelah Khaled Hosseini. Val McDermid, seorang penulis buku kriminal asal Skotlandia, menyebutnya The Man Who Died Too Soon dalam Waterstones Book Quarterly, Oktober lalu.

Kabarnya, Hollywood akan melayarperakkan novel yang sudah lebih dulu diangkat ke film di negeri asal penulisnya tersebut. Johnny Depp, George Clooney, dan Brad Pitt menyatakan minat untuk memerankan Blomkvist. Siapakah yang paling cocok menurut Anda?

*Terima kasih banyak kepada Penerbit Mizan yang menghadiahkan novel istimewa ini. Dua pekan membacanya adalah hari-hari yang sangat berarti.

Rujukan:
www.stieglarsson.com
http://en.wikipedia.org/wiki/The_Girl_with_the_Dragon_Tattoo

Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

3 Responses to “ Karya Emas Stieg Larsson, The Man Who Died Too Soon ”

  1. gravatar mia queen
    November 2nd, 2010

    Mbak Rini, saya selalu terpesona dengan gaya review mbak. Indah sekaliii.

    Buku ini sudah cukup lama saya pegang taruh pegang taruh, tapi sampai sekarang belum terbeli. Kemarin mau beli DVDnya tapi tetap lebih afdol baca dulu. Yah, target berikutnya kalau ke toko buku sekalian mau beli Pollyanna yang beranjak dewasa. Saya suka banget buku pertamanya 😉

    Cheers 😉

    • gravatar Rini Nurul Badariah
      November 2nd, 2010

      Ow, Mia..terima kasih banyak. Apresiasi Mia membuat hatiku berbunga:D

      Ditunggu ya, kesan-kesannya tentang buku ini dan Pollyanna Grows Up.

      Sekali lagi, terima kasih:)