Kapok Ngebut

October 03, 2011
31 secs
Angin puyuh di Editorium -))

Istilah Mas Agus, ‘ambisius’.

Pada suatu ketika, saya terkagum-kagum membaca resume seorang penerjemah. Menurutnya, ia bisa merampungkan satu buku dalam satu bulan. Paling lama sebulan setengah, dengan ketebalan buku rata-rata 400 halaman. Jadilah saya ingin menantang diri sendiri.

Waktu itu yang diterjemahkan adalah buku setebal 350-an halaman, font-nya besar-besar. Tidak ada istilah yang perlu riset online berlama-lama, maka saya merasa mampu ‘membalap’. Seperti orang mabuk, saya mengetik setiap hari dan pernah mencapai 50 halaman sehari.

Terus terang, mengedit saja belum pernah sampai begitu, kecuali naskahnya luar biasa mulus.

Bagaimana hasilnya? Memang rampung dalam tempo 2 minggu, termasuk baca ulang. Tapi:

1. Badan sakit semua, karena kerja 12 jam tanpa berbuat apa-apa (bisa dikatakan begitu). Duduk melulu.

2. Sering disindir Mas Agus, sebab saya kurang memperhatikannya.

3. Tangan kanan sakit selama beberapa hari, harus istirahat total.

Ditambah kekurangan teknis, ketika hasil terjemahan masuk tahap pengeditan:

1. Ada bagian yang membingungkan (karena diterabas) sampai-sampai dibahas dan disoroti oleh CEO penerbit tersebut yang turun tangan meng-acc segala sesuatunya. Duh, malu…

2. Ada bab-bab yang terpenggal/file tercecer.

Akhirnya, cukup merepotkan. Jadi, kesimpulan? Santai tapi selesai (tepat waktu) sajalah, lebih sehat untuk jantung dan rumah tangga:)

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

4 Responses for this article

  1. Dhewi
    on
    October 3rd, 2011

    kayaknya di jalan juga sudah sering dikasih tahu deh, ‘ngebut benjut’ 😛
    iyalah, kalau ngebut, yang jelas ketelitian turut dipertaruhkan. pengalaman membuktikan *curcol*

    • admin rinurbad.com
      on
      October 3rd, 2011

      Hihihi, iya. Malu juga kalau editor jadi mabuk darat, laut dan udara karena hasil sprint itu:D

  2. on
    October 3rd, 2011

    *jadi malu*

    • admin rinurbad.com
      on
      October 3rd, 2011

      Malu kenapa, Mbak?