Sudah lama hendak bercerita, namun baru sempat mencari filenya untuk sekadar mendapat gambaran kembali pada pengalaman satu ini.

Yang saya alihbahasakan hanya 50-an halaman. Akan tetapi kesempatan ini saya sambut bukan semata sebagai langkah pertama menerjemahkan buku untuk penerbit (walau kemudian disalip oleh terbitnya buku-buku terjemahan yang lain), juga merupakan penyegaran setelah bertahun-tahun berkutat dengan teks bermateri pendidikan, psikologi dan manajemen.

Dalam naskah Harun Yahya ini, terkandung banyak unsur sejarah. Saya
mengerjakan sembari berkonsultasi dengan Mas Agus, bahkan minta dicek ulang agar Mbak Ary selaku penerjemah utama dan editor Arkan (waktu itu masih Syaamil) tidak repot menyuntingnya.

Bagi saya pribadi, daya tarik naskah tersebut terletak pada elemen
linguistik bahasa Arab yang dijelaskan di dalamnya. Singkat kata,
menerjemahkan buku non fiksi bertema religius
ada serunya juga:-)

Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.