Kabhi Alvida Naa Kehna/Never Say Goodbye (2006)

May 03, 2011
5 mins

wikipedia

Alasan saya memilih film ini, selain sinopsis, adalah Amitabh Bachchan, aktor Bollywood kesayangan sewaktu kecil. Tapi sewaktu di rumah, baru sadar…kenapa oh kenapa, selalu ada Shah Rukh Khan di mana-mana? Dan kenapa kalau ada dia, pasti ada joget menari-nari yang durasinya lumayan?

Harapan saya bahwa SRK tidak dominan porsinya lenyap seketika. Ia memerankan Dev Saran, seorang pemain bola, yang terus mencemburui istrinya yang sukses, Rhea (Pretty Zinta). Dev tidak bisa berkarier di lapangan hijau sejak kakinya cedera, ditabrak mobil pada hari pertemuannya dengan seorang calon mempelai yang menjadi klien katering ibunya. Wanita itu bernama Maya (Rani Mukherjee) yang akan dinikahkan dengan teman sepermainan sedari kecil, Rishi (Abishek Bachchan). Amitabh sendiri tampil sangat eksentrik sebagai ayah Rishi yang suka bersenang-senang dengan perempuan cantik dan muda.

Film berdurasi 4 jam ini sama sekali tidak membosankan lantaran plotnya yang cepat dan konfliknya yang bercabang. Pada banyak momen, saya mengerjap-ngerjapkan mata sehingga Mas Agus yang sedang bekerja di meja sebelah berkomentar, “Nangis lagi? Tiap nonton film kok nangis.” Saya hanya tertawa karena biar bagaimanapun, air mata sehat untuk membersihkan organ penglihatan ini.

Terlalu banyak yang bisa dikutip dan dijadikan bahan renungan, mengingat tema film ini adalah drama keluarga/perkawinan, salah satu genre yang saya sukai. Sepanjang cerita, saya teringat ucapan Mas Agus bahwa dalam pertentangan, setiap orang salah dan setiap orang juga benar. Misalnya pada kasus Dev-Rhea, Dev berhak menuntut waktu karena istrinya terlalu sibuk mengejar karier, namun ia pun salah karena terus mengungkit dan menyesali impian masa lalu seakan hidupnya sudah berakhir hanya karena tidak bisa menjadi pemain bola lagi. Sebaliknya, Rhea benar karena menyandang beban berat sebagai ayah bagi Arjun, putra mereka, dari sisi ekonomi, namun ia juga salah kala berusaha ‘menyejajarkan’ Dev dengan dirinya dan terkesan malu atas penampilan suaminya sendiri. Rumah tangga Dev-Rhea berusia sembilan tahun, sedangkan Maya-Rishi empat tahun dan sama-sama diguncang persoalan yang tidak ringan. Hanya saja, pada kasus Maya, saya lebih berpihak kepada Rishi.

Seperti kata lelaki itu suatu hari, “We both have flaws, Maya. It’s just that you keep talking about broken relationship, while I talk about making it work.”

Saya tidak sependapat pula dengan pemikiran ‘menemukan belahan jiwa justru setelah terikat pernikahan’, namun dilanda trenyuh berat kala Samarjit, ayah Rishi berkata kepada menantunya, “I’m a father, I can’t punish. I can only advice. Leave Rishi. Pretending to love him will keep him away from his true love, and yourself. This kind of relationship will bring happiness to no one.”

Kabhi Alvida Naa Kehna menyuguhkan sisi lain pernikahan dengan sahabat, sesuai ucapan Maya, “Sometimes love replaces friendship, but then no place left for love.”

Salah satu adegan favorit saya, meski lagi-lagi menyimbolkan perempatan jalan dan lampu merah dengan kebimbangan hati yang sedang mendua, adalah saat Dev hendak bertemu dengan Maya dan tahu-tahu Rhea berada di sebelah wanita itu, sama-sama hendak menyeberang jalan ke arahnya. Sedikit menimbulkan tanda tanya karena Maya tidak menyadari keberadaan Rhea dalam jarak begitu dekat, walaupun mungkin ia sedang ‘melamun’ atau terlalu fokus melihat Dev, mengingat Maya dan Rhea sudah beberapa kali berjumpa.

Tetap saja, Samarjit yang paling menyita perhatian saya. Dalam ulahnya yang terkesan gila-gilaan karena terus berpesta, ia tetap memperhatikan anak dan menantu. Sebuah nasihat yang disampaikannya menggedor perasaan saya, mengenai penyesalan.

I ask her forgiveness for each moment I after my dreams over my relationship, for times I hurt her but didn’t even bother to make it up, and in numerous moments, I forgot to tell her how much I loved her.

So, you married people, the time is ‘now’.
If you want to love, love ‘now’.
If you want to ask forgiveness, ask ‘now’
Rating: 4/5
Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.