Jejak Darah

April 26, 2011
3 mins

goodreads.com

Penulis: Chris X

Penerbit: Grasindo, 2009

Tebal: 240 halaman

ISBN: 9789790258532

Buku yang bagus, menurut saya, adalah buku yang menawarkan sesuatu yang baru. Bukan berarti untuk mencetak kehebohan dan sensasi dengan menuai kontroversi secara sengaja, melainkan menggugah pemikiran ke arah hal bermanfaat. Tentu saja, masalah manfaat ini relatif bagi orang per orang. Bisa jadi ada yang tidak peduli pada telaah ilmiah akan dikorbankannya janin-janin manusia sebagai unsur kosmetik yang dicontohkan dengan produk Baby Face sebagaimana terlihat di sampul novel ini.

Beberapa berita mengenai pemakaian plasenta manusia dalam produk kecantikan saya temukan di sini, sana, dan situ. Salut atas keberanian penulis yang, mungkin saja (semoga tidak), menanggung risiko tuduhan seksis karena mengangkat sesuatu yang tidak ‘cowok banget’, kendati itu pun tidak beralasan sebab pemakaian kosmetik, khususnya menyangkut perawatan kulit wajah, sedikit-banyak berkaitan dengan upaya perempuan tampil ‘lebih baik’ di depan lelaki juga. Saya menilai ide menarik ini sebagai kepedulian penulis. Untuk mengurangi kengerian, saya sempat teringat suatu iklan yang menyebut kurang-lebih ‘semulus pantat bayi’. Juga berita yang sempat ramai beberapa waktu lalu mengenai rambut sambung dan wig yang diambil dari rambut manusia yang sudah meninggal.

Saya tidak menyangka bahwa novel yang dibuka dengan telusuran sains tersebut mengarah pada horor yang menyeramkan sehingga saya menundanya dulu semalam. Jurus Chris X, yang dengan piawai menggambarkan dunia kerja produksi dan desain melalui karakter Jessica, adalah membaurkan gaya pop dan dialog ringan sehingga pembaca tidak dicekam ketegangan terus-menerus. Yang tidak tahan deskripsi berdarah, atau seperti editor saya yang mengaku takut hantu anak-anak (sebenarnya saya juga, jadi yang terbayang adalah hantu anak di film Tusuk Jelangkung. Merinding terus, deh), tidak disarankan untuk membaca Jejak Darah kecuali ingin uji nyali:D

Keseraman horor dan gagasan mengenai kosmetik berplasenta yang menjadikan beberapa orang merenggut nyawa manusia lain demi uang sedikit terganggu oleh penggambaran karakter Dokter Gunawan yang, menurut saya, agak berlebihan. Mengapa ia harus sering berbahasa Inggris? Tanpa itu, kelainan psikis yang sepertinya ia derita sudah cukup kentara. Tidak jarang penulis terpeleset ke teknik ‘tell, not show’ antara lain dengan menyebut ‘dokter iblis itu’. Apabila novel ini dicetak ulang lagi, saya sangat menyarankan agar cuplikan lagu di dalamnya dikurangi karena sudah terjabarkan dalam obrolan Jessica dan Reno di suatu bab. Di samping itu, sinopsis cover belakang perlu dibenahi di kalimat pertama. ‘Jessica tidak menyangka kedekatannya dengan Mischa…” mengisyaratkan seolah mereka orang asing, bukan kakak-beradik.

Bagaimana pun, jempol untuk karya Chris X dengan cover keren yang sudah memasuki cetakan kedua ini. Demikian juga sub topik anak ambar, satu sisi mistis mengenai bayi yang tidak jadi lahir, dan bisa dilirik di antaranya di situ

http://jejak-darah.blogspot.com/

Novel ini telah difilmkan. Anda berani nonton? Saya sih tidak.

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.