Jangan Jadi Penerjemah Malas

May 22, 2011
38 secs
  1. Malas riset. Bahasa sangat kaya, setiap kata bisa mengandung banyak makna. Jika malas mencocokkan dengan konteks, kalimat bisa tidak ‘bunyi’ dan pembaca keriting menyimaknya.
  2. Malas bertanya. Mendapati jalan buntu, apa salahnya bertanya kepada sesama penerjemah? Tentu mengikuti rambu-rambu kesopanan yang berlaku, dan yang lebih penting lagi, sudah googling dulu.
  3. Malas membuka Google. Silakan baca poin nomor dua.
  4. Malas melangkahkan kaki ke toko buku untuk membeli kamus. Memang tak harus offline, bisa juga pesan online. Tapi punya kamus, itu harus! Bukan hanya pajangan atau puas dengan edisi zaman baheula karena tata bahasa terus berkembang.
  5. Malas membaca buku keluaran penerbit yang diincar untuk mengajukan lamaran. Berminat menerjemahkan di sana, bukan hanya bertanya-tanya ke admin FB penerbit bersangkutan yang sudah sibuk atau penerjemah lainnya. Kenali selingkung, beli bukunya barang satu eksemplar, lihat dan cermati alamat lengkap berikut emailnya.
  6. Malas membaca terjemahan orang lain. Belajar dari terjemahan yang sudah matang pula suntingannya, mengalir dengan lancar, enak dibaca, adalah bekal berharga selain melecut semangat untuk menghasilkan yang sama baiknya. Bahkan kalau bisa, lebih baik lagi.
  7. Malas mempelajari catatan koreksi dari editor. Kalau sampai kesalahan serupa terulang berkali-kali, apalagi aspek sederhana tapi penting, siap-siap ditinggalkan penerbit yang lebih suka mengorder penerjemah lain.
Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.