Penulis: Greg Iles
Penerjemah: Cahya Wiratama
Penerbit: Bentang
Tebal: 485 halaman
Cetakan: I, Maret 2009
ISBN: 978-979-1227-44-5

Dalam hal balas dendam dan cinta, wanita lebih kejam dibanding laki-laki (hal. 382)

Bila seseorang yang pernah sangat intim denganmu di masa lalu muncul kembali dalam wujud lain, sosok lain, namun mengetahui segalanya tentang dirimu dan dirinya, apa yang akan kau lakukan?

Akankah kau takut, ngeri, panik, bingung, sebab sesungguhnya dia telah lama meninggal? Bukan, ini bukan kisah perselingkuhan ala Fatal Attraction.

Untuk memastikan bahwa Eve Sumner bukanlah Mallory Chandler, kekasih masa kuliahnya, John Waters datang ke makam wanita itu. Mallory jelas-jelas telah tiada, tetapi Eve mengatakan bahwa dirinya adalah perempuan tersebut. Perlahan-lahan John menyingkap apa yang terjadi, mulai dari kematian Mallory yang tragis. Ia diperkosa secara brutal, tetapi penolakan kuat dari hatinya untuk mati dalam kondisi demikian membuat jiwa Mallory berpindah ke raga lelaki yang menodai dan membunuhnya itu. Pada titik-titik tertentu, manusia memiliki kelemahan yang membuat raganya kosong.

Secara menakjubkan, Mallory menelusuri pemikiran dan jalan hidup orang yang ia cengkeram tubuhnya. Perlahan-lahan ia dapat mengendalikan mereka, meski tidak setiap waktu. Ada kalanya ia mendekam di badan seorang lelaki, kali lain di tubuh perempuan. Bukan, ini bukan kepribadian ganda seperti kisah Sybil dan 24 Wajah Billy.

John tak kuasa menampik godaan berwujud Eve yang cantik memesona. Secara seksual, hubungannya dengan sang istri, Lily, telah mendingin selama empat tahun sejak dua kali mengalami keguguran. Sebagai mitra kerja, mereka tetap kompak. Sebagai orangtua seorang gadis cilik bernama Annelise, mereka masih penuh kasih sayang. Tetapi ada ruang-ruang kosong antara John dan Lily yang dengan segera diisi oleh Eve. Atau Mallory. Untuk pertama kalinya, John melanggar kesetiaan. Tidak seperti sahabat dan rekan kerjanya, Cole, yang sudah sangat dimaklumi istrinya dengan aneka petualangan dengan wanita. Termasuk dengan Eve sendiri.

Dalam 485 halaman yang gembur, Greg Iles menghamparkan cerita padat konflik dan ketegangan. Siapakah yang mau memercayai John tatkala Eve mendadak tewas? Pria itu diombang-ambing rasa bersalah sekaligus ketakutan kehilangan keluarganya jika harus mengakui hubungan gelap yang terjalin. Padahal John sendiri tengah menghadapi permasalahan di kantor, sumur minyaknya yang ditengarai EPA mengeluarkan limbah garam, belum lagi Cole yang dililit utang dan berperilaku aneh. John tak tahu harus memercayai pengacaranya bahwa ia dibuat gila oleh seseorang, istrinya yang meyakini bahwa keguguran dua kali tempo hari adalah karma dan dosa John, atau entah siapa.

Sleep No More menjadikan horor dan fantasi kian berdekatan, ditambah sub-sub plot yang terus menggelontorkan kejutan. Mallory dihadirkan amat mengerikan, selain masa kecilnya yang pernah dicabuli ayah kandung sendiri. Sang ayah yang pejabat negara itu tidak hanya berlaku demikian pada Mallory, namun juga gadis-gadis cilik lain. Pada masa itu, berkonsultasi dengan psikiater terbilang aib. Maka keluarga Chandler tidak melakukan apa pun kendati mengetahui ketidakberesan pada jiwa Mallory, yang saat beranjak dewasa gemar menyayat tubuhnya sendiri.

Waktu terus berpacu, dan John terjepit antara mengakui hubungan gelapnya kepada Lily sekaligus menyelamatkan anak-istrinya yang mulai diancam Mallory. Kapan saja wanita itu siap berpindah raga, tanpa diketahui, dan mengambil alih serta mengacaukan segala skenario. Ia tidak mudah dikelabui.

Saat klimaks mengharuskan perempuan berhadapan dengan perempuan untuk beradu kekuatan, khususnya secara mental, makin sulit untuk meletakkan novel ini. Dan ketika tuntas, Greg Iles memberikan penyelesaian yang masuk akal, sekaligus menjadikan karyanya sedikit berbeda dengan buku-buku thriller yang pernah ada.

Siapakah pengarang satu ini? Ia lahir di Jerman pada tahun 1960, dan menghabiskan masa remaja di Natchez, Mississippi, yang menjadi latar Sleep No More. Karir musiknya, yang mengharuskan Iles bepergian sepanjang waktu, ditinggalkan demi keluarga dan banting stir ke dunia kepenulisan. Dan ia terbukti berhasil menjalaninya, sebagaimana testimoni Stephen King di kulit muka novel ini, “..jarang ditemui thriller yang benar-benar menegangkan.”

Rujukan: www.gregiles.com

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.