Idamanku, Idaman Orangtua

January 09, 2011
9 mins

Memasuki kelas 5 SD, saya dipindahkan orangtua ke sekolah lain di pusat kota. Kurikulum yang jauh berbeda membuat saya harus bekerja ekstra keras mengejar ketinggalan. Namun saya sempat mengalami shock culture akibat perbedaan gaya hidup dan pergaulan di lingkungan baru. Teman-teman sekelas saya sudah puber, mengenal lawan jenis dan terbiasa saling menitip salam untuk siswa yang disukai. Di sekolah yang lama, anak laki-laki dan perempuan duduk bersebelahan atau berjalan berdua saja dianggap tabu.

Saya juga sering kesal sebab teman-teman di mobil jemputan langganan menjodohkan saya dengan si A atau si B. Namun kemudian orangtua saya menasihati agar tetap tenang. Kemarahan hanya akan membuat mereka semakin senang menggoda saya. Lagipula kekesalan yang tidak mendapat solusi itu (saya tidak mungkin mengadu kepada guru atau wali kelas mengenai hal ini) juga mempengaruhi konsentrasi saya belajar.

Hati saya terasa lega ketika akhirnya menamatkan SD dan meninggalkan sekolah itu. Tahun demi tahun berlalu. Kedua orangtua saya tak henti-hentinya mengingatkan agar saya tidak pacaran selagi masih bersekolah. Paling tidak, saya harus menunggu hingga menapaki dunia mahasiswa. Menurut mereka berdua, saya terlalu muda. Memang saya masuk SD saat baru berumur 5 tahun dan tidak masuk TK lebih dahulu.

Berat sekali menaati larangan orangtua, terutama pada usia puber. Waktu itu hampir semua teman sudah berpacaran. Ada semacam keharusan agar siswi yang merayakan ulang tahun ke-17 memperkenalkan teman terdekat dan memberinya potongan kue pertama. Saya bersyukur sudah hampir lulus SMA ketika menginjak umur 17. Di samping itu, dalam keluarga kami tidak ada tradisi memperingati ulang tahun dengan mengadakan pesta. Saya merasa terdukung sebab teman sebangku saya juga tidak pacaran. Seperti umumnya remaja sebaya kami, kakak-kakaknya yang sudah dewasa khawatir ia tidak mampu berfokus pada pelajaran sekolah. Pendek kata, pacaran merupakan kambing hitam nomor satu untuk setiap kemerosotan nilai di rapor.

Walaupun demikian, orangtua tidak melarang saya berteman. Bahkan mereka menganjurkan saya punya teman sebanyak mungkin dan tidak pilih-pilih, asalkan berpengaruh baik. Teman laki-laki juga boleh berkunjung ke rumah, dengan syarat tahu waktu. Seorang kakak kelas saya sempat merasa tidak enak hati dan segera pulang saat ibu saya mengingatkan waktu Maghrib. Keluarga kami menerapkan sejenis jam malam. Anak perempuan (juga anak laki-laki yang masih bersekolah) harus berada di rumah bila Maghrib tiba. Peraturan ini lebih longgar setelah saya dan saudara-saudara saya kuliah, dengan catatan untuk keperluan yang benar-benar penting dan minta izin terlebih dulu.

Insiden di atas membuat saya risau kehilangan teman. Setahu saya, jarang orangtua teman-teman yang memberlakukan larangan serupa. Tetapi ibu saya berkata, “Teman yang baik pasti akan mengerti kebiasaan dan keadaan kamu. Orang yang mengajak kamu melanggar aturan, apalagi melawan orangtua, tidak pantas dijadikan teman.”

Orangtua saya terbilang konservatif, namun saya tidak menyalahkan mereka. Pendidikan agama merupakan unsur penting di mata beliau berdua sehingga saya, kakak, dan adik diharuskan les mengaji sejak sudah dapat membaca. Jika melihat remaja yang berkelakuan kurang baik dan meninggalkan shalat dengan sengaja, saya sering mendengar Bapak atau Ibu berkata, “Apakah orangtua mereka tidak mengajarinya?”

Saya tidak sendirian. Seorang teman sepermainan di masa kanak-kanak memiliki ayah yang lebih keras dalam hal agama. Kalau teman saya tertidur sebelum shalat Isya, sang ayah langsung membangunkannya. Jika ia malas shalat (dan waktu itu usianya sudah akil baligh), ayahnya pasti memukulnya. Mendengar pola asuh demikian, kedua orangtua saya mengacungkan jempol. “Sudah tanggungjawab orangtua untuk membekali anak-anak dengan agama, agar hidup mereka selamat,” mereka berpendapat. “Yang sudah dididik dengan baik saja bisa salah jalan, apalagi yang tidak?”

Setelah saya duduk di bangku kuliah, lampu hijau untuk mengenal lawan jenis mulai dinyalakan. Lampu kuning, tepatnya, karena kedua orangtua selalu mengawasi cara saya bergaul. Saya sudah boleh keluar dengan teman dekat laki-laki, namun sebelumnya harus menjawab sederet pertanyaan lebih dahulu. Pergi ke mana, dengan siapa saja, acaranya apa, pulang jam berapa. Jika saya hendak keluar malam, jumlah pertanyaannya lebih banyak lagi.

Jantung saya berdegup kian kencang dari hari ke hari. Seorang teman main diblack list karena mengajak pergi tanpa turun dari mobil untuk sekadar pamit kepada ibu saya. Ia melakukan hal yang sama saat mengantarkan saya pulang. Akibatnya, saya harus mendengarkan petuah panjang lebar tentang sikap anak perempuan baik-baik. Ketika mencoba membela teman tersebut dengan mengatakan bahwa saya tidak mengajaknya mampir, ibu saya semakin marah. “Kenapa nggak diajak ketemu Ibu dulu? Kalau begitu, artinya kamu terima diperlakukan sembarangan dan tidak menghormati diri sendiri.”

Bapak saya lebih keras lagi sikapnya. Saya tidak boleh menelepon teman laki-laki jika tidak mempunyai keperluan mendesak. Pesawat telepon sengaja diletakkan di ruang keluarga yang ramai, berdekatan dengan kursi santai ayah saya, sehingga saya merasa risih bila menerima atau menggunakan telepon terlalu lama. Jika seorang teman laki-laki tampak sering mengunjungi saya (dengan kata lain, pacaran), Bapak mengibarkan siaga satu. Bukan satu-dua kali Bapak bertanya, “Sudah shalat belum?” kepada teman dekat saya itu bila waktu shalat telah tiba.

Bisa dikatakan, ketaatan beribadah merupakan tolok ukur penilaian yang tidak dapat diganggu-gugat. Ibu kerap memuji suami sepupu saya yang tak pernah meninggalkan ibadah lima waktu. Mau tidak mau saya terbawa selektif juga. Ada seorang teman yang mengaku malas shalat, meskipun sudah diingatkan. Sesekali saya dapat menutupinya jika ditanya Bapak atau Ibu. Tetapi lambat-laun mereka pasti akan tahu. Saya harus menganbil keputusan sebelum orangtua menjatuhkan vonis. Dalam renungan dan doa, saya berpikir, “Saya berhak mendapat yang lebih baik. Bahkan yang terbaik, karena sebagai perempuan, saya membutuhkan imam dalam keluarga kelak.”

Sebagai mahasiswa, lingkup pergaulan saya lebih luas. Ada teman yang benar-benar religius, namun cenderung kaku dan serius. Ada teman yang menyenangkan, tetapi hanya shalat di bulan Ramadhan (sekaligus melepas atribut anting-antingnya). Kadang kami shalat berjamaah dengan beberapa sahabat lelaki di tempat kos. “Hayo, shalat, shalat!” dengan nada menggoda, kami mengingatkan bila ada yang tampak malas-malasan. Alhamdulillah, di kalangan teman kampus yang terbiasa main ke mal dan berpenampilan tidak terlalu rapi sekalipun, selalu terbit rasa malu jika tidak shalat.

Pesan kedua orangtua untuk berhati-hati memilih teman hidup menjelang tahun-tahun terakhir kuliah menancap di benak dan hati saya yang paling dalam. Syukurlah, Allah menjawab doa saya (yang tentunya didukung doa orangtua) setelah melewati proses yang terasa begitu panjang. Dari luar, penampilan suami saya (waktu itu baru berkenalan) sama saja dengan teman-teman sekampus lainnya. Nyentrik, kata orang. Namun siapa sangka, meskipun rambutnya gondrong, kesehariannya masih lekat dengan cara hidup di daerah yang sederhana dan sesuai dengan tuntunan agama. Bahkan ia pernah beberapa kali mengajar mengaji. Mengetahui ibunya seorang guru mengaji, loloslah laki-laki satu ini dari segala persyaratan ketat kedua orangtua. Sejak berkunjung ke rumah pertama kali, Bapak dan Ibu tidak bertanya terlalu banyak seperti yang sudah-sudah. Tindak-tanduk suami saya juga memperlihatkan kesan baik yang telah lama tertanam dalam pemikiran keluarga kami tentang perilaku orang Jawa, yaitu telaten dan tidak gengsi melakukan pekerjaan rumahtangga. Setelah menikah, sikapnya tak berubah. Beberapa kali saya sakit keras, suami rela tidak masuk kantor atau menunda janji pertemuan dengan relasi untuk merawat saya seorang diri sampai benar-benar sembuh. Mungkin karena itulah, orangtua saya tidak mengusiknya dengan suruhan memotong rambut panjangnya. Hampir enam tahun, rumahtangga kami senantiasa diliputi kebahagiaan. Saya telah menemukan pemimpin yang diidam-idamkan dan sangat bersyukur atas karunia Allah yang tak ternilai ini.

Tulisan ini termasuk satu dari 20 Pemenang Lomba Menulis Kisah Nyata Qultummedia tahun 2005.

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.