I Hate Times New Roman

November 13, 2010
3 mins

Hey, it looks much more better now.

Boleh dikatakan ini peninggalan masa skripsi. Buat saya, selain tidak mirip tulisan tangan (yang waktu itu masih rapi jali karena belum seintim sekarang dengan komputer), font satu ini kaku. Ilmiah. Tidak lentur atau artistik. Sebut saja alasan lainnya, ngarang atau tidak.

Saking sebalnya, waktu seminar linguistik, saya membagikan salinan kepada empat orang dosen penguji dengan font berlainan. Bahkan ada yang berjenis handwriting. Bayangkan dosen saya yang sepuh membaca makalah seminar semacam itu dalam bahasa Prancis dan huruf berukir-ukir. Bengal, ya? Tapi mereka tidak protes, tuh. Hanya ada yang menggumam, “Di saya halaman 22,” ketika saya bilang, “Halaman 21,” misalnya.

Saya pernah mengomel dalam hati ketika seorang relasi meminta menuliskan proyek ghostwriting dengan Times New Roman. Not again! “Kenapa sih?” tuntut saya. “Biar gampang ngitungnya,” kata relasi yang juga teman baik saya itu. Saya tidak percaya begitu saja, dan masih bersungut-sungut ketika ia bilang, “Ya pake aja font lain sesukamu, nanti balikin ke TMR pas mau setor.” Grr..

Sewaktu menggunakan Toshi, yang sekarang diistirahatkan karena sering diajak rodi sampai gempor, bila terpaksa memakai TMR, saya zoom Word-nya menjadi 150 persen. Apa boleh buat, karena font favorit saya, Trebuchet MS, lebih bulat-bulat sehingga perbedaannya cukup tajam secara kuantitas nanti. Berbahagialah saya kala memperoleh tugas yang berdasarkan karakter, bukan jumlah halaman, karena leluasa memakai font yang disukai.

TMR memedihkan mata saat saya menggunakan Ceri. Layarnya yang lebar (lain dengan Toshi yang tinggi) membuat zoom tidak ada gunanya, bahkan malah silau dan font samar-samar. Mata jadi capek karena melihat ukuran lebih kecil dari biasanya. Saya bertahan, meski tak ingat pakai font apa yang tidak terlalu menyulitkan pandangan.

Dengan Cerah Duo, mendingan. Walau siwer lantaran layarnya lebih kecil (sehingga perlu disiasati dengan zoom dan dobel spasi), TMR masih kelihatan nyaman. Tetap saja, kalau bisa pake yang lain, saya emoh TMR-an. Seperti kala menulis posting ini.

Saya mengubah ragam font di Options browser dengan klik tab Content, tapi masih saja TMR yang muncul. Saya kira karena tampilan WP ini termasuk Western Style (ini kode atau program, saya tak paham), namun ternyata jalan keluarnya simpel. Lihat di bawah, ada tulisan: Allow pages to choose fonts, instead of my selections above. Buang centang, oke..bye bye TMR.

Jadi kenapa penerbitan gemar dengan Times New Roman? Jawabannya saya peroleh dari Mas Agus, yang pernah berkutat dengan bisnis cetak. Katanya, format TMR itu ‘baku’ dari segi bentuk. Katakanlah huruf satu romawi tidak mirip i besar (I) sehingga tidak ‘menyesatkan’. Benar atau tidak, saya tak tahu, tapi penjelasan ini masuk akal juga.

Oh ya, kalau berminat mengintip sekilas tentang Times ini, ada di situ.

 

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

9 Responses for this article

  1. on
    November 13th, 2010

    Hahahaha, macam betul bundo ini. Ternyata pernah iseng sama dosen pengujinya tokh? Hehehe..

    Untunglah skripsiku disuruh pake arial, yang mana itupun tidak terlalu disukai, dan yah memang trebuchet paling aku suka. Di desain kartu nama pun pakai ini, sebab dgn ukuran terkecil pun dia masih bisa terbaca.

    TMR kurang asik memang dan berkait dan kaku dan jadul. Tapi memang dia yg paling jeli masalah penomeran. 😀

    • Rini Nurul Badariah
      on
      November 13th, 2010

      Hihihi…benar, pokoknya apa pun asal bukan TMR, lah. Rasanya huruf mesin ketik juga nggak gitu-gitu amat *menggali ingatan*.
      Kalo baca buku, aku pun suka mengamati fontnya, walau tak tahu bentuknya..eh namanya:D
      Aku suka Garamond juga, gara-gara Goodreads, tapi entah mengapa tak pernah pas ukurannya.
      Tooosss, Tya, sesama penggemar Trebuchet:))

  2. on
    November 13th, 2010

    hohoho… sekarang lagi cinta ma font cambria,,, kadang font ngaruh juga ke semangat nulis, koq bisa ya??

    • Rini Nurul Badariah
      on
      November 13th, 2010

      Cambria tuh yang mana ya? *cek cek Word*
      Iya Sin, bentuk berpengaruh pada semangat. Mungkin karena mata kita menikmati pemandangan indah:D

    • on
      January 16th, 2014

      Aku jg fave Cambria skrg Mbak Sinta, dan bener sekali, font berpengaruh ke semangat menulis! 😀

  3. on
    November 14th, 2010

    Cambria bawaan dari windows version terbaru, mom. Hurufnya cantik, sedikit lebih langsing dari trebuchet. Fresh aja gitu, secara bertahun2 dijejelin TMR. Aku sepakat ngetik jadi lebih semangat klo pake font bagus. Yah, disamping mood sekitarnya tentoe sadja. 😀

    • Rini Nurul Badariah
      on
      November 14th, 2010

      Hehehe.. iya, namanya aja bikin ceria gitu.. Cambria, sukaria..:D

  4. on
    November 16th, 2010

    My fave juga Trebuchet! 😀

    • Rini Nurul Badariah
      on
      November 16th, 2010

      Asiiiik, tos! 😀