Hindari Eksperimen di Tengah Kerja

May 24, 2011
3 mins

Demikian wejangan Mas Agus. Dahulu, cara saya menerjemahkan sebelum mengenal koneksi yang tersambung senantiasa dan masih mengandalkan warnet seperti ini:

  1. Mencatat kata-kata sulit, terutama bahasa Prancis
  2. Mencari maknanya di kamus dan disusun dalam daftar
  3. Menerjemahkan sambil sekali-sekali melihat daftar tadi

Ini cukup merepotkan karena ternyata saya harus kerja dua kali. Tidak semua kata ada dalam kamus dan saya harus googling lagi. Mengingat kamus bahasa Prancis-Indonesia offline tidak ada, saya menggunakan wordreference.com, web kamus Prancis-Inggris. Memang jadi ekstra berpikir, tapi tak masalah.

Sekalipun sudah dicari maknanya, kadang tidak cocok dengan konteks. Tidak mungkin adik saya, yang dulu sering membantu, dimintai menuliskan semua makna yang ada di daftar. Gotong royong masih berlangsung, kadang Mas Agus yang mengetik dan saya mendiktekan terjemahannya. Dengan demikian ia juga langsung merapikan.

Tetapi itu dulu. Sekitar tiga tahun belakangan, saya harus mengerjakan semua sendiri.

Metode saya seperti ini:

  1. Mengesampingkan semua kata susah, menandainya saja. Kadang dengan highlight, kadang ditulis di daftar terpisah.
  2. Usai menerjemahkan, mengedit dan baca ulang sambil mencari makna kata susah tadi.

Ini juga kurang tepat. Proses baca ulang menjadi berat dan memakan waktu, apalagi selama pengerjaan saya tergoda melompat banyak kata. Bisa dibayangkan anehnya kalimat hasil ketika diperiksa sebelum disetorkan.

Sekarang saya menggunakan cara ‘baru’, menerjemahkan keseluruhan. Bukan hanya memadankan kata yang tepat sesuai konteks, tetapi juga merapikan kalimat dengan teknik membaca satu kalimat, atau satu alinea kalau memungkinkan, tangkap artinya, diktekan dalam kepala, baru diketik.

Sungguh, ini tidak melelahkan. Hanya terasa lambat awalnya. Dan memeriksa satu kata, frasa, istilah, idiom, bisa memakan waktu nyaris setengah jam karena tergoda sosmed atau chatting atau blogwalking ke mana-mana.

Mendadak saya ingin menambah beban sendiri: meningkatkan kuota target halaman tiap hari. Dua puluh halaman, misalnya. Selama ini rata-rata maksimal sepuluh halaman saja (baca: sepuluh yang sudah disunting sekalian).

Bisakah saya mengejarnya? Bisa, tapi kerja dua belas jam lebih berikut segala distraksinya. Saya pernah mencapai 20 halaman dan tidur jam 11 malam, tanpa tidur siang. Lelah sekali tentu saja, dan kalau ini dilakukan secara rutin, badan bisa ambruk. Jangankan 20 halaman, 3 halaman pun tidak kuat.

Akhirnya saya berdamai dengan diri sendiri. Kecepatan dan kualitas tidak bisa seiring, setidaknya untuk saya. Bila nekat, barangkali saya tak ubahnya Sangkuriang yang tak dapat apa-apa. Hanya perahu terbalik. Atau Bandung Bondowoso yang hanya dapat Roro Jonggrang versi arca.

Saat merenung kembali, memang salah bila ingin bereksperimen di tengah kerja. Sudah cukup dengan terjemahan langsung rapi tadi, mengenai halaman biarlah saya tetap di jumlah standar. Dan alhamdulillah, dengan hati rileks begitu, bisa dapat 15 halaman per hari. Suatu pencapaian menurut saya, mengingat novelnya lumayan jlimet saking eksploratifnya sang penulis.

Ke depan, insya Allah saya ingin menerapkan metode ini terus. Tambah satu lagi: ngebut di depan, bukan menumpuk dan terbirit-birit di belakang supaya kerja jadi efektif.

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

4 Responses for this article

  1. on
    May 24th, 2011

    Pengalamanku:

    Kalau dapat fotokopian kupecah-pecah, diklip per 10 halaman. Begitu juga buku hardcopy, ditandai pakai page marker. Pokoknya target minimal harus 10 halaman perhari. Meski ternyata kalau keasyikan bisa jadi rata-rata 20 halaman per hari. Secara aku kalau nerjemahin fiksi lebih sering keasyikannya daripada enggak.

    Biasanya menerjemahkan memakai sistem word attack dulu, jadi mencoba memahami kata dan kalimat berdasarkan konteks. Biasanya secara otomatis typo akan kebaca dengan segera, karena kebiasaan ngetik satu kalimat, sambil ngelirik kalimat sebelumnya. Setiap satu bab selesai baca lagi. Baru nanti pas selesai semua, menyisihkan 2-3 hari untuk membaca.

    Kalau mau liburan, berarti harus target pas libur harus dikerjakan dulu atau terutang di belakang 🙂

    NB:
    Psssttt, kalau menerjemahkan saya kadang suka abai sama EYD hehehe

    • admin rinurbad.com
      on
      May 24th, 2011

      Begitu juga buku hardcopy, ditandai pakai page marker. ->tadi kukira page maker, Mbak…hahahaha…

      • on
        May 25th, 2011

        yang belum tertanggulangi adalah gangguan krucil-krucil kecil dan satu krucil besar :))

        • admin rinurbad.com
          on
          May 25th, 2011

          Krucil besar jadinya krusar, Mbak? Hahaha…