Hal-hal yang Merusak Reputasi Penerjemah

May 07, 2011
2 mins

Kalau yang menyangkut etika sebelum memperoleh order/belum pernah bekerja sama sudah sering dibahas, antara lain:

1. Typo di surat lamaran, misalnya menulis ‘penterjemah’ atau ‘translater’.

2. Menawar tenggat waktu mengerjakan tes.

3. ‘Menodong’ order di tempat umum, misalnya comment Facebook yang bisa dibaca sejagat raya. Seakrab-akrabnya dengan sang editor, ini kurang etis. Mungkin saja pemilik akun bersangkutan tidak keberatan, namun bagaimana dengan penerbit lain yang menjadi relasi editor tersebut? Apalagi kalau kita belum mengenal editor ini sama sekali.

Sedangkan berikut ini masalah fatal yang saya intisarikan dari obrolan dengan para editor dan dapat mengakibatkan seorang penerjemah tidak diorder lagi:

1. Mensubkontrakkan pekerjaan. Ada satu-dua editor yang memilih tutup mata, selama hasilnya baik. Tetapi seorang editor kenalan saya bercerita bahwa di file penerjemah yang diperiksanya dan tengah menimbulkan tanda tanya karena jomplang gaya yang besar, terdapat petunjuk bahwa naskah dikerjakan oleh orang lain. Sang penerjemah lupa menghapus pertanyaan yang diketik langsung di naskah oleh penerjemah kedua tadi.

2. Naskah memerlukan editing sangat berat. Seorang relasi editor pernah mengutarakan keheranannya bahwa ada penerjemah yang mengerjakan tes dengan amat baik namun ketika menggarap satu buku, hasilnya centang perenang. Jika kesalahannya parah, semisal tabrak lari/terobos idiom, kekeliruan penafsiran kalimat yang jauh sekali (misalnya terbalik dengan yang dimaksud penulis), dan banjir typo, jasa penerjemah ini disangsikan akan dipakai lagi.

3. Sudah mendapat kesempatan (baca: order) kedua, tetapi kesalahan yang sudah diberi catatan koreksi dan sebenarnya terbilang sederhana (dalam arti hal-hal pokok yang seharusnya dipahami penerjemah) terulang terus.

4. Keterlambatan yang keterlaluan. Mundur boleh saja, namun harus berkomunikasi. Saya pernah mendengar seorang penerjemah dibatalkan proyeknya karena molor satu tahun.

5. Ketahuan merangkap kerja. Ada editor yang cukup saklek mengenai hal satu ini dan menghubungkannya dengan penilaian kinerja serta etika penerjemah bersangkutan.

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

8 Responses for this article

  1. Dina Begum
    on
    May 7th, 2011

    Trims, ya, buat petunjuknya…

    • Rini Nurul
      on
      May 7th, 2011

      Sama-sama, Mbak Dina.

  2. Dina Begum
    on
    May 7th, 2011

    Omong-omong, yang dimaksud ‘Ketahuan merangkap kerja’ itu apakah merangkap mengerjakan terjemahan lain dalam waktu yang sama dengan yang telah disepakati untuk menggarap satu terjemahan atau bagaimana?

    • Rini Nurul
      on
      May 7th, 2011

      Misalnya menggarap terjemahan untuk penerbit A dan B dalam waktu bersamaan.

  3. Istiani Prajoko
    on
    May 7th, 2011

    Masukan yang bagus. Terima kasih. Ditunggu masukan yang lain.

    • Rini Nurul
      on
      May 7th, 2011

      Terima kasih kembali, Mbak Isti. Insya Allah.

  4. Kahar
    on
    May 7th, 2011

    Trims mbak Rini, sangat bermanfaat 🙂

    • Rini Nurul
      on
      May 7th, 2011

      Sama-sama, Mas Kahar:)