Girl With Dragon Tattoo Versi Film

January 02, 2011
2 mins

Kalau boleh bersikukuh, saya lebih menyukai judul asli buku versi Swedianya, Män som hatar kvinnor, alias Men Who Hate Women. Lebih sangar dan mengerikan. Namun Girl with Dragon Tattoo pun tak kalah bagus, sebab karakter Lisbeth Salander dalam film ini  bahkan lebih dominan porsinya dibandingkan Mikael Blomkvist yang masih ‘sejajar’ di dalam buku. Bila Anda belum membaca novelnya, silakan tengok ulasan saya di situ.

Buku merupakan salah satu bahan dasar cerita film yang kaya dan nyaris tak pernah habis. Ini terkuak antara lain dalam memoar mendiang Sidney Sheldon, Sisi Lain Diriku. Ia pernah bekerja sebagai penulis sinopsis novel untuk perusahaan film yang harus dirampungkan satu hari (bahkan beberapa jam) dan dibayar 10 dolar.

Karena padatnya sub plot dan konflik dalam novel Girl, sineas harus berhati-hati memilah elemen yang ditampilkan di layar lebarnya. Porsi Blomkvist lebih minim, bahkan hubungannya dengan Erika Berger pun sekilas saja. Misi utamanya pun menguak sebuah tanda tanya besar, bukan menulis buku. Bisa dikatakan, apabila belum membaca novelnya, penonton akan bingung oleh alur yang cepat.

Sedari awal muncul, Lisbeth Salander sudah mencorong. Penampilannya yang nyentrik, isi kepalanya yang berjuta giga (alias cerdas), menenteng laptop guna mengakses aneka data sesuai kepentingan profesinya sebagai hacker, dan jalan hidupnya yang teramat keras lagi menjadikan perempuan 24 tahun ini karakter yang tidak biasa.

Pendalaman akting Noomi Rapace patut disemati lima bintang. Walaupun canggung dan introvert, Lisbeth tak berdaya kala dilecehkan oleh walinya sendiri. Imajinasi yang muncul dari hasil bacaan saya dulu (ini tidak sering terjadi, saya ingat banyak hal dalam novel yang begitu tebal) menjadikan adegan-adegan yang sudah disensor ‘dari sananya’ kian menegangkan. Sekadar info, bagi yang tidak tahan melihat darah dan kesadisan, sebaiknya tidak nonton film thriller keren ini.

Kalimat Lisbeth yang paling berkesan adalah,

He is no victim. He is just like us. We all grow up with choices. It is us who choose who we’re gonna be.”

Kira-kira begitulah.

BTW bahasa Swedia ternyata enak didengar. Lisbeth Salander, I love you more 🙂 )

BTW 2: nonton film ini mengingatkan saya pada pekerjaan yang kurang lebih, menyangkut kisah nyata seseorang. Saya akan berusaha segiat dan seserius Salander:D

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

5 Responses for this article

  1. della
    on
    January 4th, 2011

    Wuaaaaaaaaaaahhh..
    masih awal tahun, tulisannya udah sebanyak ini ^0^
    Bakal sering-sering berkunjung, nih.
    Selamat ya, mbak, atas kelahiran “anak” teranyarnya 🙂

    • Rini Nurul
      on
      January 10th, 2011

      Terima kasih banyak atas kunjungannya, Della:)

  2. on
    January 4th, 2011

    saya tahu soal ini karena julian assange :p

    • admin
      on
      January 9th, 2011

      Saya pernah dengar Julian Assange, tapi belum menelusuri lebih jauh tentangnya:)

  3. on
    January 24th, 2011

    Versi Hollywoodnya beredar tahun ini mbak 😀 cari aaaah versi aslinya. ^^