Fasihnya Kim Dong-hwa Berbicara Tentang Wanita

January 09, 2011
5 mins

Judul: Warna Tanah [Buku 1]
Penulis: Kim Dong-hwa
Penerjemah: Rosi L. Simamora
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 320 halaman
Cetakan: I, Juli 2010
ISBN: 9789792259278
Harga: Rp 50.000,00

Di dalam sekuntum bunga labu
Kerinduan lebih luas daripada nirwana
Di dalam sekuntum bunga labu
Penantian lebih lama daripada malam
Di puncak gerbang
Di puncak genting
Sebuah lentera dinyalakan
[hal. 75]

Seorang wanita yang membesarkan putri tunggalnya tanpa pendamping dan menghadapi liku-liku dalam keseharian bukanlah sesuatu yang asing bagi kita sekarang ini. Namun dengan pengamatan nan lembut lagi jeli, Kim Dong-hwa mengeksplorasi hubungan internal yang terjalin antara Ehwa, si gadis cilik, dengan ibunya seiring perjalanan menapaki rambatan usia.

Sejak awal, bergulir proses penyerapan ilmu baru mengenai kehidupan dan sosok wanita. Ehwa bingung sekaligus terperanjat mendengar orang menyebut ibunya tak ubahnya kumbang, karena serangga satu itu tidak memandang bulu untuk berkelamin. Di kedai minum yang dijalankannya seorang diri guna menyambung hidup, ibu Ehwa senantiasa diserang godaan para lelaki dikarenakan paras moleknya. Kendati perilaku mereka kurang ajar, bahasa yang digunakan Kim Dong-hwa tetap puitis, contohnya sebagai berikut,

“Wanita juga merekah. Kau bisa melihat tanda-tandanya. Melihat bagaimana tubuhnya berayun seperti ranting-ranting lentur pohon dedalu di bulan Juni.
..Tapi jika seorang wanita tidak bisa membuka matanya setelah hujan seperti itu, ia tidak bisa dianggap wanita..
Seperti kata pepatah “Ketika seorang wanita basah kuyup karena hujan, malam itu kekasihnya akan mimisan hebat!”
[hal. 107]

Maksud pepatah di atas adalah, ketika seorang laki-laki sedang bergairah, darahnya berdesir cepat di tubuhnya sehingga ia mimisan.

Orangtua mana pun tidak dapat mengelakkan keingintahuan anak yang amat besar, bahkan yang bersentuhan dengan seks. Demikian pula ibu Ehwa. Dengan hati-hati ia menjelaskan kepada buah hatinya ihwal perempuan yang dianggap ‘cacat’ karena tidak memiliki burung, kemudian rahim yang disebutnya ‘pintu datangnya bayi-bayi’. Sungguh impresif kala sang ibu menggunakan peristilahan yang menenteramkan hati, alih-alih membuat tegang dan ngeri, mengenai hubungan suami istri.

Keterusterangan Ehwa membuat saya mengulum senyum. Sebut saja kala pohon gingko dijulukinya [maaf] pohon eek dikarenakan bau yang menyengat. Setelah mengetahui bahwa pohon gingko cukup ‘saling memandang’ untuk melakukan pembuahan, Ehwa menyerbu ibunya kembali dengan pendapat yang perlu diluruskan bahwa cara manusia memperoleh keturunan berbeda dengan tumbuh-tumbuhan.

Tidak seperti anak lain yang cenderung posesif, Ehwa sangat memaklumi saat ibunya membuka pintu hati untuk seorang ahli piktograf yang mengembara. Sebagai manusia, sang ibu merindukan cinta kasih dan Ehwa tidak keberatan menyingkir sementara untuk itu. Betapa manis dan menyentuh ketika ia bahkan memetik bunga azalea guna dibuat anggur dan dipersembahkan kepada orang istimewa, sebagaimana adat Korea yang berlaku. Sesekali saja ia mencandai sang ibu karena kekasihnya meninggalkan kuas setiap kali berkunjung, yang semula menjadi alasan untuk datang lagi. Tanpa terlalu banyak pengarahan, Ehwa mengetahui bahwa ada hal-hal yang harus dirahasiakan demi kesopanan seorang perempuan.

Menginjak usia belasan, gadis cilik yang bak bunga mekar ini pun mengenal panah asmara. Pertemuan dengan pujaan hati perdananya divisualkan dengan amat menawan oleh Kim Dong-hwa, di sebuah jembatan sempit yang dihiasi bunga. Karena getaran spesial itu, Ehwa rela bertukar rasa suka akan jenis bunga dengan seorang biksu kecil. Perjumpaan mereka dikukuhkan melalui barter bunga tigerlily dan hollycock.

Bebungaan memang salah satu kekuatan sang komikus, yang bergelut di genre sunjung [di Jepang disebut shojo, manga untuk perempuan], untuk mempercantik aneka kisah romansa dan analogi hati yang bergolak di buku yang dikemas sebagai trilogi ini. Kita diingatkan pada daya pukau film-film drama negeri ginseng yang sarat gambar nan memanjakan mata. Setiap halaman digarap detail, menyedot pembaca untuk mengarungi panorama memesona. Sudah barang tentu, kontribusi penerjemah yang lebur dalam suasana cerita amat nyata.

“Aku hanya akan menanam sebatang pohon labu dan memelihara sekuntum bunga berukuran besar. Dan bunga itu akan lebih putih daripada bulan.
Semua laki-laki itu bahkan belum pernah meyaksikan wajah bunga labu. Bunga itu hanya membuka kelopak-kelopaknya yang putih pada malam hari, tertawa, lalu menutupnya lagi selagi semua orang tengah tertidur.
Meskipun pohon labu memiliki banyak carang, bunganya hanya merekah untuk satu orang. “
[hal. 110]

Tak henti-hentinya saya berdecak kagum dan berpikir, “Kapan ya dapat kesempatan menerjemahkan novel grafis seelok ini?”:D

Aspek budaya tidak ketinggalan dihidangkan. Perihal ginseng yang lebih berharga daripada emas, misalnya. Perut akan berbunyi riuh mendapati gambar menggoda berupa sup ayam ginseng yang dapat memulihkan stamina. Masih ada lagi yang menyangkut perawatan tubuh wanita, di antaranya mencuci muka dengan air beras sehingga kulit berseri.

Warna Tanah sungguh merupakan karya yang luar biasa gemilang, dan saya tidak sabar menunggu sekuelnya.

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.