Faktor-faktor (Internal) yang Memperlambat Kerja

February 03, 2011
2 mins

Ini sekadar sergapan pikiran ketika sedang makan di jeda terjemahan.

Faktor umum

1. Mengantuk. Walaupun mata sulit dipejamkan, misalnya karena suasana sekitar gaduh (saya tergolong yang ceuli lentaheun), yang penting badan istirahat dan punggung diluruskan.

2. Kurang sehat. Saya tidak berani memaksakan diri, lebih baik berbaring seharian dan mematikan komputer daripada kerja dengan kepala pening atau demam. Apalagi kalau yang kambuh si lambung.

3. Tamu bulanan. Sebenarnya ini tergolong poin kedua, tapi sangat variatif. Bila cukup istirahat dan makan teratur, paling pegal-pegal biasa dan mules di hari pertama. Mengonsumsi vitamin bisa membantu daya tahan, meskipun efeknya lapar dan ingin tidur melulu:)

4. Bergaul di internet. Harus diakui, teknologi yang sangat memudahkan untuk ber-googling ria dan berdiskusi memiliki daya giur lain: chatting tak berkesudahan dan tahu-tahu setengah hari telah berlalu. Cukup repot menangkalnya apabila pekerjaan mengharuskan riset online.

Faktor Khusus

1. Materi naskah yang disunting/diterjemahkan berat. Berbahasa zaman baheula dengan struktur terbolak-balik, kosakata tidak biasa, aneka istilah yang tidak ada di kamus cetak, gaya spesifik (misalnya penuh puisi), bertemakan sains, sejarah, dan semacamnya.

2. Bisa jadi topiknya relatif ringan, namun gaya pengarang amat rinci, deskripsi panjang lebar, atau berbelit-belit sehingga satu bab sepanjang 12 halaman pun terasa menjemukan.

3. Terjemahan yang disunting membutuhkan gunting tajam lagi besar. Mata harus mencermati mondar-mandir setiap frasa, kalimat, mencocokkan dengan konteks, kalimat asli, dan sebagainya. Demikian pula dengan bahan editan bahasa Indonesia yang memerlukan polesan banyak. Lebih menyedihkan lagi, jika tata bahasa mendasar masih salah.

4. Materi naskah tidak begitu disukai, namun ini jarang saya alami.

5. Menyunting naskah asli yang mengharuskan diskusi dengan pengarangnya. Menunggu jawaban SMS atau email, menunggu hasil revisi, kadang setara dengan mengerjakan sepuluh halaman. Bahkan lebih.

Semua ini memang risiko belaka, namun yang paling saya benci adalah mati listrik. Alhamdulillah koneksi internet jarang ngadat (dalam arti tidak memakan waktu lama), sehingga kendati sudah mem-bookmark kamus online di ponsel, saya belum pernah menggunakannya. Tapi kalau listrik tak mengalir sedangkan materinya bukan hardcopy, habislah awak…

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

5 Responses for this article

  1. on
    February 3rd, 2011

    setuju, Teteh. Faktor internet terkadang bikin memperlambat kerja. 😀
    Aku pun demikian soalnya. -__-

    • Rini Nurul
      on
      February 3rd, 2011

      Tapi kalau internet down, sebel juga ya, Mo. Butuh soalnya:D

  2. on
    February 8th, 2011

    Setuju banget. Terutama tamu bulanan itu. Heuheu…
    Kalau materi sains sih…aku suka 😀

    • Rini Nurul
      on
      February 8th, 2011

      Termasuk Teorema Fermat, ya:D

      • on
        February 9th, 2011

        Hihi… Sampai pening kepala :))