Extraordinary Measures (2010)

March 06, 2011
3 mins

sumber: wikipedia

Sudah lama saya kurang menyukai film-film yang dibintangi Brendan Fraser. Entah mengapa, ia belum bisa menghapus kesan yang muncul kala main dalam California Man, filmnya yang pertama kali saya tonton. George of the Jungle, lewat. The Mummy, lewat. Baru sekarang, tepatnya tadi pagi, saya bisa anteng menyimak aktingnya. Mungkinkah pengaruh cerita dan lawan main?

Dalam drama berjudul Extraordinary Measures, Brendan memerankan John Crowley, seorang ayah dengan dua buah hati berusia 6 dan 8 tahun yang menderita penyakit Pompe, yakni kelainan genetik yang menyebabkan semacam kelumpuhan. Megan dan Patrick, dua dari tiga anak John itu, harus duduk di kursi roda dan dipasangi alarm supaya dapat segera ditangani setiap kali mengalami serangan. Sosok Megan yang ceria dan tabah serta tetap bersemangat hidup sangat mengesankan.

Bersama istrinya, Aileen, John memperjuangkan penemuan obat baru untuk mengatasi Pompe. Bukan hanya Megan dan Patrick yang menderita ini. John mengejar dokter Robert Stonehill (Harrison Ford) yang bertahun-tahun meneliti Pompe dan berusaha merumuskan obatnya secara teori karena belum kunjung memperoleh dana. Menurut dokter eksentrik ini, dana tahunan yang diturunkan universitas untuk kepentingan risetnya jauh lebih rendah dibandingkan beasiswa untuk pemain football.

Dua sosok yang berbeda karakter ini menjadi mitra, mencari sponsor guna menggolkan tujuan. Tentu saja sepanjang prosesnya, mereka mengalami bentrokan. Di sinilah sisi manusiawi yang relatif jarang saya temukan dalam film-film berdasarkan kisah nyata. Dialog-dialognya amat dewasa. Saya terkesima oleh penampilan Robert Stonehill yang keras, memasang musik kala asyik bekerja, dan tanpa tedeng aling-aling berkata bahwa ia tidak peduli pada uang. “I’m a scientist!” John harus memutar otak untuk mencari jalan tengah karena ditekan kiri-kanan sementara waktu yang diperkirakan dokter atas nyawa kedua anaknya semakin pendek. Katanya kepada sang ilmuwan keras kepala, “Fine, spend the rest of your life dreaming up great ideas that don’t get funded. Draw your diagrams on the wall that cure diseases in theory but never help a single human being in reality.”

Dibandingkan film sejenis yang saya tonton belasan tahun silam (kalau tidak salah judulnya Lorenzo’s Oil), saya lebih menyukai Extraordinary Measures. Bukan hanya perjuangan menyelamatkan nyawa yang mengharu-biru, tetapi juga dedikasi seorang ilmuwan yang harus memilah kepentingan orang lain dan idealismenya sendiri. John mempertaruhkan kariernya dan ketika dipertanyakan oleh atasan, ia menjawab, “You’re right, this is crazy. I’m chasing the wind but I can’t just sit around and wait for my kids to die. I can’t do that.” Ada pula kode-kode etik yang baru saya ketahui, yakni pantangnya konflik kepentingan dalam pengujian suatu temuan ilmiah demi objektivitas.

Film ini diangkat dari buku karya Geeta Anand, The Cure: How a Father Raised $100 Million–And Bucked the Medical Establishment–In a Quest to Save His Children

Kutipan dialog bersumber dari situ

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.