Terlambat nonton film bagus ini? Ya, tentu saja, sewaktu tayang di bioskop Indonesia, saya baru berusia 15 tahun. Belum cukup berani untuk menerobos larangan orangtua atau penjaga bioskop:D

Saya suka kisah-kisah mafia sejak membaca novel Sidney Sheldon, antara lain Malaikat Keadilan, Garis Darah, dan Kilau Bintang Menerangi Langit. Semakin tertarik lagi pada film Goodfellas ini sebab, selain saya menggemari akting Robert de Niro, sumbernya adalah kisah nyata.
Sejak masih pra remaja, Henry Hill (Ray Liotta) berminat menjadi anggota gangster. Pria separuh Italia ini menempuh segala cara untuk meleluasakan diri di sana, termasuk membiarkan anak buah Paulie yang dilayaninya menghajar tukang pos agar tidak lagi menyampaikan surat-surat ke rumah. Henry kecil sempat dipukul ayahnya karena ketahuan tidak bersekolah berbulan-bulan.

Paulie adalah sosok yang eksentrik. Ia tidak mau memasang telepon di rumah. Kemudian, Henry berkenalan dengan Jimmy (Robert de Niro) dan Tommy (Joe Pesci). Mereka malang-melintang bersama, dan sepanjang film yang dihiasi narasi ini, makin teranglah apa saja yang diperbuat ‘keluarga’ (istilah anggota mafia). Menagih utang, membunuh diam-diam, sampai berjualan obat bius. Juga berebut wilayah kekuasaan, tentunya.

Layaknya pria yang berhasrat, Henry menikah dengan gadis Yahudi, Karen (Lorraine Bracco). Mertuanya marah-marah karena Henry pulang-pergi tak menentu, namun Karen selalu membela. Cukup menggelikan kala Paulie memperkenalkan Karen dengan seluruh anggota keluarga dan menyebut mereka semua Paul, Peter, dan istri-anak mereka yang perempuan ‘Marie’.

Sudah jelas, para pasangan hidup mafia turut berperan ‘menghidupkan’ bisnis mereka. Maka lumrah bila Karen naik pitam kala Henry ketahuan punya kekasih gelap.

Film yang memborong sederet penghargaan ini mengesankan sekaligus mengerikan bagi yang alergi tontonan berlumur darah. Saya menyukai penghayatan akting De Niro, yang saat itu masih muda dan ganteng, kala dihinggapi paranoia. Agar tidak tercium pihak berwenang, anggota mafia tidak boleh membeli apa pun yang mencolok, misalnya mantel bulu mink atau mobil mahal dan bermerk.

Jempolannya lagi, dengan subtitle bahasa Inggris dan  pengucapan yang ‘sempurna’, Goodfellas makin asyik ditonton walaupun berdurasi 3 jam.

Habis ini, nonton Godfather deh kapan-kapan..:)

Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Empat Bintang Untuk Goodfellas ”

  1. gravatar Yayan
    January 8th, 2011

    Taraaaaaaaaa…. selamat atas launching websitenya mbak 🙂 juga, penasaran dengan film ini hehe.

    • gravatar admin
      January 9th, 2011

      Terima kasih Yan, yuk nonton filmnya..keren banget:D