Saya pribadi merasakan, alangkah nikmatnya memiliki pasangan hidup yang terjun atau berasal dari area serupa. Tentu ini tidak mutlak benar, sebab yang lebih penting lagi adalah ia mengerti bidang kerja istri sehingga tidak tercengang-cengang diajak berbincang atau menjadi tempat curahan hati saat istrinya diterkam singa mati dan berada dalam suasana ‘senggol bacok’. Saya tidak sendiri. Sebut saja, pasangan penerjemah Femmy Syahrani dan Herman Ardiyanto yang dengan elok mengalihbahasakan Kapten March, dan Nur Aini bersama suami yang kompak dalam proses kreatif.

Mas Agus sudah ‘meninggalkan’ latar akademisnya, namun masih mengonsumsi bacaan berbau filsafat dan sastra serta menjadi tempat saya bertanya. Lebih kerap lagi, tempat mengeluh. Tatkala saya merasa tersaruk-saruk menerjemahkan prosa liris, ia menanggapi dengan senyum sembari menenangkan. Kemudian bercerita tentang seorang senior di kampus, kenalan saya juga, yang dengan piawai menerjemahkan Khalil Gibran dari bahasa Arab berikut metode-metodenya.

Saya masih lesu dan tidak percaya diri. Mas Agus menjelaskan bahwa sebuah novel sastra lain, yang diterjemahkan oleh senior di bidang ini, masih menampakkan kesulitan buku aslinya sehingga ia harus meraba-raba setelah halaman sekian ratus. Ini belum manjur. Padahal, editor saya di penerbitan yang menanggungjawabi novel prosa liris ini pun menyemangati dengan memaparkan bahwa sang senior merasa pusing memindahkan teks sastra indah ke dalam bahasa Indonesia, kendati otak telah memecahkan ‘kode-kode’ itu dengan lancar. “Semua yang menerjemahkan klasik untuk kami mengeluh, Mbak,” kata editor baik hati ini. Ya, kalau yang pakar saja ngos-ngosan, bagaimana dengan saya?

Akhirnya, berhubung tenggat pribadi sudah rampung, Mas Agus menyanggupi melakukan penyuntingan awal terjemahan saya yang hampir tuntas ini. Saya ragu dapat memeriksa sendiri dengan otak jernih, mengingat pemahaman satu frasa atau anak kalimat saja memerlukan sedikitnya tiga kali baca. Pagi ini, Mas Agus berkata, “Selama terjemahanmu masih bisa dimengerti, tenang sajalah. Aku ngeditnya sudah sampai bab 3, lho.” Dengan gaya khasnya, ala mendongeng, ia menuturkan cerita novel ini melalui kata-kata sendiri. Tidak ada yang meleset. Bahkan bagian-bagian yang menurut saya ‘aneh’, semisal lompatan fragmen tanpa aba-aba dari pengarang, bisa ia nikmati. Katanya, “Aku suka tuh yang bikin nebak-nebak begitu.” Ia juga mengatakan bahwa keberanian si pengarang (lebih tepatnya, keterusterangan) mengagumkan.

Perlahan-lahan saya melanjutkan kembali pemecahan sandi aneh dengan membaca dan mengabaikan tata bahasa untuk sementara. Terima kasih, Mas Agus.

Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.