Penulis: Jeff Kinney
Penerjemah: Ferry Halim
Penerbit: Atria
Tebal: 217 halaman
Cetakan: ke-2, Juni 2010
ISBN: 978-979-1411-24-0

Greg dan Dad

Anak yang dipandang lembek ini masih menyandang beban ekspektasi ayahnya. Frank terilhami oleh sosok remaja bengal yang pernah berkali-kali dilaporkannya ke polisi karena berbuat keributan di sekitar rumah. Setelah mengikuti sekolah militer, remaja itu berubah drastis menjadi ‘anak baik-baik’. Maka sekolah militer menjadi kengerian baru bagi Greg di samping latihan sepak bola setiap hari Minggu, yang didorong sang ayah lantaran ingin anaknya bisa dibanggakan seperti putra-putra atasan di kantor.

Keinginan orangtua terhadap anak sesungguhnya sah saja, kendati acap kali dipaksakan. Kita akan dibuat tersenyum-senyum ketika Greg mengetahui bahwa membahagiakan ayahnya ternyata cukup sederhana. Padahal ia sempat membuat ‘skandal’, yakni melalaikan tugas sebagai penjaga gawang dan asyik bermain dengan bunga dandelion.

Apakah Dad tidak punya masalah? Tentu tidak. Diam-diam ia menggemari makanan tidak sehat, walau berikrar akan diet untuk itu. Belum lagi friksi kecilnya dengan Mom, lantaran jahil menulisi foto sang istri ketika mengenakan pakaian senam. Sudah sangat jelas, darimana Greg, Manny, dan Rodrick mendapat bakat tengil.

Greg dan Mom

Greg tidak dapat meminta tolong Mom untuk membebaskannya dari keharusan masuk sekolah militer, karena sang ibu justru mengatakan bahwa seragam akan membuatnya guanteng banget [salut kepada penerjemah yang kreatif]. Bukan berarti sikap Greg pada Mom tanpa cela. Ia sangat gemar mencecerkan pakaian kotor di mana saja sehingga Mom yang harus memunguti dan membawanya ke ruang cuci. Tidak mengherankan, Mom mendukung pemberian hadiah salah satu paman Greg berupa keranjang cucian yang sempat diduga putra keduanya ini sebagai mainan. Kurang ajarnya, Greg malah meminta paman tersebut menukar barang itu ke toko dan menggantinya dengan uang.

Dua pelajaran bagi ibu seorang anak remaja dari hubungan Greg dan Mom ini adalah:

1. Jangan mengantarkan barang yang ketinggalan ke sekolah sambil memakai pakaian senam.

2. Jangan menguping pembicaraan anak, sekalipun membuat gatal berkomentar [terutama karena anak sedang puber].

Greg dan Rodrick

Rodrick tidak banyak dikisahkan dalam buku ketiga ini. Ia masih bengal, mengisengi adiknya ketika menginap di hotel sehingga Greg harus berkeliaran di lorong dengan hanya memakai celana dalam. Jeff Kinney mengeksplisitkan penggambaran bahwa hubungan Greg, Rodrick dan ayah mereka tidak terlalu baik pula.

Greg pernah menjahili kakaknya, dengan memotret Rodrick yang sedang dicukur rambut mengenakan penutup tubuh dari baju hamil Mom yang berbunga-bunga. Naasnya, sang kakak membalas dengan menaruh semut gatal di tempat tidur Greg. Apa yang dilakukan Greg kepada Rodrick terkesan main-main belaka, tanpa niat jahat, namun berdasarkan sejumlah artikel psikologi remaja yang pernah saya baca – termasuk Child Development karangan J.W. Santrock – remaja memang sangat rawan secara emosional sehingga gurauan dapat disalahartikan sebagai ejekan.

Greg dan Manny

Manny masih anak bungsu yang dimanjakan, walaupun sudah sangat lama tidak kunjung lulus dari preschool. Greg mengambil peluang untuk memanfaatkannya kala kehabisan ide mengenai hadiah Hari Ibu, dengan nebeng nama di kartu ucapan Manny.

Greg dan Rowley

Sangat menggelikan tatkala untuk kesekian kalinya, Greg terkecoh ajakan Rowley menginap bersama teman-temannya yang tidak lain tidak bukan adalah anak-anak yang lebih kecil. Namun sikap represif masih ditunjukkan oleh Greg, dengan memaksa Rowley membantunya menarik perhatian Holly Hills dan minta gendong ketika mereka harus jalan kaki ke sekolah.

Greg dan Bullying

Salah satu aspek memprihatinkan yang berperan besar dalam perilaku Greg yang tengil dan sering kali menyebalkan adalah bullying yang masih saja dialaminya di sekolah. Ia sampai berkhayal dapat meloncat bak superhero ke dinding hanya dengan berlatih beberapa lama, untuk bisa menghindari para pelakunya.

Kembali, Jeff Kinney menyajikan novel kartun yang menampilkan remaja dari sudut pandangnya sendiri, polahnya yang konyol dan kadang memusingkan, prioritasnya akan hal-hal ‘sepele’, serta layak dijadikan bahan renungan bagi para orangtua yang memiliki anak remaja. Bagi saya pribadi, salah satunya, buku ini memberikan titik terang mengapa seorang keponakan cowok semasa SD tidak ragu mengenakan sandal milik saya yang beralas bulu dan dihiasi krincingan kecil semata untuk menghangatkan kaki [seperti Greg memakai jubah mandi ibunya].

Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Diary Bocah Tengil 3 di Mata Seorang Mantan Remaja ”

  1. gravatar Valentina Sirait
    January 30th, 2011

    Hi Rin, aku suka banget buku ini, versi Inggrisnya semuanya aku lalap (termasuk minjem punya anak temen aku hihihi). Tp kenapa kata wimpy malah diterjemahin jadi tengil sama penerjemahnya, ya? Padahal kalau diterjemahkan ‘culun’ itu jauh lebih tepat. Cupu mungkin terlalu gaul, tapi culun kayaknya semua orang familiar n ngerti deh, jauh lebih pas dibandingkan tengil yg kesannya nyebelin, badung, atau ngeyel. Btw blog kamu jd makin keren aja!

    • gravatar Rini Nurul
      January 30th, 2011

      Mbak Tina, terima kasih:D
      Memang banyak yang menyukai buku ini, kalau tidak salah sampai cetak ulang.
      Tengil memang kesannya nyebelin, tapi aku kadang-kadang sebel juga sama Greg, hahaha…kapan-kapan coba kutanyakan pada penerbitnya, ya:)