Di Balik Buku ‘Smart Patient’

January 15, 2011
3 mins

Sebelumnya, saya sudah membaca beberapa karya Mbak Agnes Tri Harjaningrum, di antaranya One Gigabyte of Love (tulisan beliau termasuk yang paling saya sukai) dan Family Traveler. Khusus dengan membaca buku terakhir ini (yang juga diterbitkan LPPH), saya semakin memahami gaya menulis beliau. Padat dan detail, sarat kandungan informasi. Rupanya Mbak Agnes menulis selama tiga tahun. Satu lagi bukti bahwa ketergesaan patut dihindari untuk mematangkan karya semaksimal mungkin.

Naskah sepanjang 140-an halaman ini berjudul awal Menjadi Pasien Cerdas. Itu pun sudah mengena bagi saya, relevan dengan isinya dan mengajarkan masyarakat agar tidak ‘pasrah’. Kasus-kasus yang dipaparkan, sebagaimana dijelaskan oleh penulisnya di muka, menyangkut anak-anak dan penyakit ‘ringan’ yang acap kali menyerang mereka. Saya teringat dialog dalam film seri Family Ties, bahwa pasutri menunggui anaknya demam sebanyak 12 kali dalam setahun.

Buku ini ditulis dengan jujur oleh Mbak Agnes. Beliau tidak segan mengakui, misalnya, bahwa sekalipun dirinya seorang dokter, tak urung diserang panik kala anaknya sakit di Belanda dan dokter tidak memberikan obat apa pun. Secara gamblang diterangkanlah bahaya antibiotik apabila dipandang sebagai ‘obat wajib’ dan tak ubahnya camilan (saking seringnya diminta setiap kali merasa sakit atau demam) serta Sistem Penggunaan Obat Rasional. Benar-benar membuka mata dan perlu dibaca oleh para orangtua di Indonesia.

Dengan blak-blakan pula, Mbak Agnes memaparkan bahwa mereka yang berpendidikan tinggi pun tidak lantas mudah memahami bahaya konsumsi obat yang semena-mena. Uraian yang tak kalah menarik, bagi saya, menyangkut stigma bahwa dokter yang ramai dikunjungi pasien justru perlu ‘disangsikan’ kesaksamaan cara memeriksanya. Apalagi yang sampai masuk sekali dua-tiga orang. Terngiang kembali cerita saudara yang antre dokter sampai tengah malam dan nomor gilirannya seratus sekian.

Tanpa bermaksud membandingkan secara berlebihan (baca: ambil sisi positifnya, bukan berarti mendewakan), buku ini menjelaskan ketatnya aturan dokter di Belanda. Pasien tidak boleh nyeruduk atau datang dadakan. Kalau dipikir-pikir ini benar juga, bukankah dokter juga manusia dan butuh istirahat? Bila cara kerjanya ngarawu ku siku (ambil sana-sini), dokter akan kelelahan dan tidak dapat menjalankan tugas dengan semestinya. Sikap tegas ini saya coba terapkan dalam pekerjaan, kendati masih dalam skala kecil.

Poin penting lain yang melekat dalam ingatan saya ialah anjuran untuk tidak panik jika anggota keluarga sakit. Beristirahat pun bukan berarti berbaring di tempat tidur sepanjang hari.

Tidak banyak yang saya otak-atik dari naskah ini, selain merapikan beberapa ejaan dan memiringkan sejumlah istilah dalam kalimat ‘gado-gado’ yang dimaklumi mengingat Mbak Agnes bermukim di negeri bunga tulip. Juga meringkas kalimat yang mengandung repetisi dan terlalu majemuk, di samping mengubah sedikit beberapa dialog agar lebih mengindonesia.

Harapan saya, buku Smart Patient dapat bermanfaat bagi banyak orang. BTW, saya yang menulis sinopsis back cover-nya kecuali kalimat terakhir:)

Terima kasih banyak, Mbak Dee dan tim LPPH, karena menorehkan catatan membahagiakan dalam perjalanan kepenyuntingan saya.

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses for this article

  1. on
    May 2nd, 2011

    salut untuk karya dr Agnes dan Mbak Rini

    saya pribadi menjadikan buku ini senjata utama (DALAM MAKNA POSITIF ) , selain juga artikel artikel karya Prof Iwan Darmansyah, SpFK dan Prof Samsuridzal Djauzi SpPD ( beliau pengisi rubruk kesehatan di KOmpas ) untuk mendidik pasien

    pasien tidak hanya orang sakit, pasien adalah kelaurga kira sendiri bahkan anak kita dan bahkan diri kita sendiri tergolek sakit

    apa kita rela merusak masa depan orang yang ktia cintai dengan ” pengobatan tidak rasional ”

    hal yang sering dilupakan..
    dan buku ini menggunakan gaya bahasa yang mudah diapahami…

    salam hormat
    Ditunggu lagi karya karyanya

    • Rini Nurul
      on
      May 3rd, 2011

      Terima kasih, Dokter.