Dendam Seorang Pangeran

January 18, 2011
2 mins

Judul: Buddha 7: Pangeran Ajatassatu

Penulis: Osamu Tezuka

Penerjemah: Asha Fortuna

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, 2007

Tebal: 419 halaman

ISBN: 9789799100825

Pangeran Ajatassatu menaruh kesumat kepada Buddha, yang dianggapnya menyebarkan ramalan palsu sehingga sang ayah, Bimbisara resah. Kedua lelaki ini bergerak menampik jalannya takdir, tetapi yang terjadi malah lebih mengerikan.

Sementara itu, Buddha mendapat teguran dari Brahma. Ia dianggap ongkang-ongkang kaki dalam kenyamanan pertapaan Wetuwana yang dihadiahkan Raja Bimbisara, tidak menebar ajaran dengan semestinya. Maka meski menuai protes, Buddha berangkat bersama Ananda ke Kapilawastu, yang telah dikuasai Kosala.

Sebelumnya, Buddha telah menimbulkan pro dan kontra hebat pula. Ia menunjuk dua murid baru sebagai penerus yang diperkenankannya duduk di bawah pohon Bodhi. Padahal, mantan guru mereka, Sanjaya, berusaha menjatuhkan Buddha karena ditinggalkan oleh ratusan muridnya sekaligus. Aliran Sanjaya ini unik, yakni keraguan terhadap segala sesuatu. Sebagai akibat, murid-muridnya pun meragukan ajaran Sanjaya dan pergi kepada Buddha.

Ananda ditugaskan Buddha, yang mulai menua dan ringkih, mencari orang yang sanggup meramal masa depan seperti Assaji dahulu. Hati Ananda ciut karena masyarakat mengenali jati dirinya sebagai bandit, menderanya dengan hinaan dan tidak memberikan derma, tetapi ia berjuang dengan keyakinan dapat menjadi orang suci yang sejati sekaligus membersihkan diri.

Batin Buddha bergolak kala menyusuri masa silamnya, hari-hari awal melepaskan tahta pewaris kerajaan Kapilawastu. Ia bertemu kembali dengan orangtua, istri dan putranya, Rahula, serta sisa-sisa suku Sakhya. Dalam kepedihan hati yang menggoda iman, Buddha menyampaikan ceramah kepada mereka dan Pangeran Kristal.

“Aku bisa menghindari ketakutan hari ini, tapi bukankah besok dia akan datang lagi? Justru aku harus merangkul ketakutan ini dan menemukan kedamaian di tengah-tengahnya.”
(hal. 48)

“Kalau begitu, aku hendak menanyakan sesuatu, apa kau menikmati balas dendam ini? Apa kau pernah berkata kepada dirimu sendiri sekali saja, “Ini menyenangkan!”
Atau kau malah menderita karenanya? Pada malam hari?”
(hal. 325)

“Kehidupan seseorang berubah layaknya awan. Tidak ada kehidupan yang selalu bahagia atau tidak bahagia. Dan awan tidak berubah bentuk dengan sendirinya. Angin, panas, matahari, malam, dan siang memaksanya berubah!” (hal. 349)

Favorit saya adalah kalimat ini:
“Coba pikir, kita semua punya bibit kegilaan. Jangan terlalu keras terhadap kegilaan orang lain.” (hal. 270)

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.