Confession of A Book Shopaholic

January 09, 2011
4 mins

Tulisan ini termasuk salah satu pemenang lomba menulis pengalaman seru MP yang diadakan Alimuddin, http://rumohaceh.multiply.com/

CONFESSION OF A BOOKSHOPAHOLIC

Pernah lihat orang berburu barang obral di mal sampai tarik-tarikan? Atau pernah nonton film yang salah satu adegannya menggambarkan dua orang wanita berebut tas merk tertentu yang tengah sale dan barangnya tinggal satu item? Hal itu tidak hanya bisa terjadi di ‘dunia nyata’, tetapi juga di alam maya alias Internet. Tepatnya Multiply, tempat beberapa anggotanya membuka akun untuk berjualan.

“Maaf Pak, judul itu sudah di-book Mbak Rini. Perhatikan comment-nya, lebih dulu satu detik,” kata pemilik sekaligus pengelola sebuah toko online pada suatu hari. Saya memang sudah mengincar buku yang dimaksud sejak lama, namun dikarenakan harganya lumayan menguras dompet, saya memutuskan untuk bersabar menunggu diskon atau membeli second dalam kondisi yang cukup baik.

“Yah..keduluan,” user satunya kecewa, kemudian mengirimkan PM. “Mbak, gimana kalau kali ini untuk saya saja? Mbak Rini kan sudah banyak bukunya.”

Pada dasarnya saya baik hati meski tidak mudah dirayu [karena bukan pulau kelapa]. Tetapi menyangkut buku, lebih sering ego saya yang unjuk gigi. Apalagi menyimak kalimat ‘sudah banyak bukunya’. Lalu kenapa? Tidak boleh nambah lagi? Saya kan bayar, saya kan sudah lebih dulu mem-book, pokoknya..dan seterusnya, dan seterusnya. Maka saya balas dengan icon senyum saja, diembeli, “Maaf Pak, semoga beruntung lain kali.”

Namun saya tidak selalu ‘pasang taring’. Ada kalanya angin bagus berembus, ketika seorang peminat tampak benar-benar menginginkan buku tertentu yang sebenarnya sudah saya book, hati kecil terketuk juga [hati besar sedang pelesiran]. Dengan rela saya lepaskan pesanan itu, dengan pertimbangan aturan toko online tersebut memperbolehkan booking batal bila tidak dikonfirmasi dalam jangka waktu sekian hari. Akan tetapi ini tidak terjadi setiap kali belanja, alias..tergantung amal ibadah, hehehe.

Pedagang online yang saya langgani ini benar-benar customer oriented, barangkali karena dirinya pun seorang pelahap buku. Ia juga yang merekomendasikan toko maya lain di sebuah akun MP. Bukan sekadar berlandaskan perkawanan sesama pedagang, namun ia pernah berbelanja di sana dan membuktikan kualitas barang serta layanannya.

Toko satu ini memang sangat menarik. Harganya miring dan tidak jarang sang pemilik menyediakan paket-paket yang membuat dompet buyar seketika. Proses booking berlangsung mendebarkan mengingat beliau memiliki banyak kontak, apalagi ketika koneksi Internet mendadak tersendat-sendat. Saya sudah mengambil jalan pintas via Multiply Mobile, tetapi lapak online itu keburu diserbu banyak orang.

“Mbaaak, aku ambil no 2,3,5,7, 2!” pekik seseorang di kolom comment. Gubraks! Ini namanya perang antar konsumen. Beberapa pembelanja berseru, “Woooy, jangan diambil semua dong..ingat-ingat yang lain!”

Penyakit kebanyakan shopaholic adalah memendam nafsu alias penasaran bila barang yang ditaksirnya direbut di depan hidung. Demikian pula saya. Beberapa malam saya tak dapat memejamkan mata. Pasalnya, sulit sekali menemukan buku yang tempo hari di-book orang lain itu dengan harga sama ramahnya.

Pada suatu kesempatan, saya berbincang-bincang santai dengan pemilik toko melalui YM. Obrolan menukik ke arah urusan dagangnya, sehingga saya tidak membuang kesempatan untuk menanyakan buku lagi. “Sayang siih, udah keburu diambil. Memang nggak ada lagi ya, Mbak?”

Sang pemilik toko menjawab, “Eh, masih ada kok, Mbak. Orangnya nggak ngabarin lagi, jadi tampaknya nggak jadi beli.”

OMG! Jadi yang tempo hari sabet berbondong-bondong itu maksudnya apa?!

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.