Cinta, Wanita, dan Grafis Romantis Korea

January 10, 2011
6 mins

Judul: Warna Air

Penulis: Kim Dong-hwa

Penerjemah: Rosi L. Simamora

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2010

Tebal: 320 halaman

ISBN:9789792259889

sumber: Goodreads

The world is full of small and insignificant things. These things end up coming together and creating the history of entire human beings. People can think that each one of their personal decisions, their obligations and responsibilities, are just their own, but the truth is that everything and everyone is connected and related deeply and closely.
(Kim Dong Hwa, dalam wawancara dengan Newsarama.com)

Bunga dan wanita memiliki keterikatan yang cukup erat. Perlambang itu terlihat sangat dominan dalam Warna Air, bahkan nyaris membenamkan simbolisme dan unsur budaya Korea lainnya yang pernah dimunculkan di buku pertama. Sebut saja, urusan kuliner nyaris tidak ada. Tiga kata kunci dalam novel grafis ini: cinta, bunga, dan hubungan perempuan.

Ada hubungan sesama wanita, antara seorang ibu dan anak tunggalnya. Perlahan tapi pasti ibu Ehwa menyaksikan putrinya berkembang bak bunga yang siap mekar dan menebar keharuman. Bukan semata karena gadis itu merupakan darah dagingnya, bukan pula karena merasa tersaingi dalam hal kemolekan, sebagaimana ucapan mereka bahwa tidak pernah ada bunga yang mati dikarenakan tumbuhnya bunga lain. Setiap jenis bunga memiliki keindahan tersendiri, dan diyakini hadir ke dunia untuk menyambut aneka peristiwa istimewa.

Tak ayal, ibu Ehwa terusik kala putrinya agak mengolok-olok sang kekasih, yakni tukang gambar keliling. Ia terenyak oleh perilaku bak anak perawan yang baru mengenal asmara lantaran sering tertegun-tegun memandangi gerbang desa, mengharap lelaki itu singgah. Sedangkan perjumpaan Ehwa dengan lelaki yang kemudian menaut hatinya, Duksam, menggeser memori pada film-film percintaan khas negeri Song Hye Kyo yang bertaburan ide kreatif seputar plot bernuansa romantis dan dibauri gelak tawa. Seperti kata ibundanya, gadis yang bak kuncup menguak kelopak ini mengidamkan lelaki ketiga tersebut tidak sekadar mampir dalam hidupnya, seperti biksu muda dan putra pemilik kebun dahulu.

Untuk memperkuat romantisme yang tergelar dari bab ke bab, Kim Dong Hwa tidak lupa mengaitkan bunga dengan para pria pula. Karena bebungaan, sang tukang gambar memelihara kenangan dan semangat akan wanita yang dikasihinya. Menurutnya, tidaklah penting apakah seorang lelaki pantas membawa-bawa bunga atau tidak, melainkan bagaimana bunga itu berada di tangan penerimanya. Dengan manis, Ehwa berkata bahwa melihatnya menggenggam karangan bunga itu justru lebih mengesankan.

Tatkala pesona Ehwa menyita pandangan sejumlah pria, keresahan ibunya semakin nyata. Ucapan-ucapan yang terlontar, kelakar akan sepotong bulan yang justru membuat tetamu di kedai tehnya berhasrat dengan melihat wajah Ehwa saja, kendati ia mengakui bahwa di balik semua sampah yang terlontar tersisip bongkahan emas. Pada dasarnya, wanita menyukai pujian dan perhatian pada hal-hal kecil sekalipun.

Riset Kim Dong Hwa yang mendetail akan segi-segi kewanitaan kembali pantas diacungi jempol. Ia merangkum keinginan perempuan tampil segar dan elok ibarat bunga yang menanti kedatangan kupu-kupu. Masih dengan diksi puitis, melalui ibu Ehwa, terungkap bahwa mereka yang tidak menyadari kecantikan seorang perempuan bukanlah kupu-kupu, melainkan ngengat. Metafora angin digunakan pada sosok lelaki, angin yang keras dan angin yang lembut menyejukkan. Kali lain, Ehwa menyatakan tak keberatan bersatu dengan kupu-kupu api karena tidak langsung pergi setelah menyerap sarinya.

Keseriusan penelusuran sang penulis tergambar dalam keingintahuan seksualitas Ehwa, yang amat kontras dengan teman-teman sebayanya. Boleh jadi ‘langkah’ gadis ini untuk menjadi perempuan dewasa sedikit tidak lazim dan gamblang, akan tetapi ini merupakan peringatan bahwa kaum remaja acap kali memendam rahasia dan para orangtua, khususnya ibu, perlu menerangkan sejelas mungkin agar mereka tidak bertanya pada orang, tempat, dan waktu yang salah. Ini terkuak kala Ehwa dimarahi ibunya sebab menyukai aroma bunga kastanye.

Dalam wawancara dengan Newsarama.com, KDH mengakui bahwa dirinya tidak serta-merta menjadi serba tahu akan dunia perempuan. Sejujurnya, inspirasi trilogi novel grafis ini dijumput dari ibunya sendiri, dipadu dengan pengamatan akan budaya dan anekdot seputar perkawinan serta wanita di Korea zaman itu. Oleh karenanya, Lauren Na – penerjemah seri ini ke dalam bahasa Inggris -dengan telaten menambahkan catatan-catatan singkat guna memperjernih pemahaman pembaca akan frasa tertentu.

Cinta tidak lantas menjadikan ibu Ehwa melupakan masa lalu yaitu almarhum suaminya. Hati saya berdenyar-denyar karena wanita tersebut mengalirkan air mata, mengingat sang suami yang menggendongnya di belakang agar bisa tidur dan bahkan melarangnya membersihkan ikan agar tangannya tidak kotor. Begitu mabuknya perempuan ini akan limpahan cinta kasih sehingga ia tidak siap tatkala ayah Ehwa dipanggil Yang Kuasa.

Bila dirasa tak selegit buku perdananya, itu disebabkan Ehwa yang merambah kedewasaan harus mengenal sisi-sisi getir hidup secara bertahap. Misalnya adat Korea kala itu, yang mengharuskan seorang perempuan tinggal di rumah mertua bersama ipar-iparnya sampai suaminya berpulang. Toh, Warna Air adalah novel grafis yang jelita, membuat saya menikmati penulisan resensinya, dan berharap penerbitan karya-karya Kim Dong Hwa di Indonesia tidak sampai di sini saja.
Terima kasih, GPU, atas hadiah yang amat berharga ini:)

Rujukan:
http://www.newsarama.com/comics/040916-C…
http://www.publishersweekly.com/pw/by-to…

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.