Cincin Monster

December 13, 2010
2 mins

undefined
Judul Asli: The Monster’s Ring
Sub Judul: A Magic Shop Book
Penulis: Bruce Coville
Penerjemah: Venti
Penyunting: Hamzah Fuadi
Ilustrasi: Yulia Afifah
Penerbit: Matahati
Tebal: 143 halaman
Cetakan: I, September 2007
Beli di: Tisera, Jatos

 

Dari judul dan ilustrasinya, sudah dapat diterka bahwa tema yang
diusung novel ini adalah misteri bernuansa horor. Hal tersebut yang
mendorong saya meraihnya dan meletakkan kembali ‘Hidden Face of Iran’
ke rak. Pertanyaan yang langsung muncul: seperti apakah cerita horor
untuk anak-anak itu?

Russell Troy mengalami persoalan khas anak-anak (dan remaja) di
sekolah. Ia ditindas oleh seorang anak yang lebih besar bernama Eddie.
Eddie-lah monster dalam kehidupan Russell sehari-hari sehingga ia
berkeinginan membalas dendam dengan cara yang tak terpikirkan oleh
siapa pun juga. Sebentuk cincin yang dibelinya dari toko sihir. Toko
itu ditemukan Russell tanpa sengaja saat melarikan diri dari kejaran
Eddie.

Begitu mengetahui kemampuan cincin tersebut, Russell langsung berniat
menakut-nakuti Eddie. Namun itu tidak dapat segera dilakukannya.
Sebagaimana seorang anak yang tidak berpikir panjang, Russell terkejut
sekaligus menikmati penampilan barunya yang menyeramkan. Cerita
dituturkan dengan logis sebab anak lelaki ini berusaha mencari tahu
manfaat cincin itu secara detil dari penjualnya. Kehadiran sepasang
tikus, walau tidak jelas mengapa mereka dapat berbicara, menunjukkan
kepedulian si pemilik toko sihir terhadap dampak negatif yang mungkin
terjadi akibat keteledoran Russell.

Cincin Monster tidak melulu mengisahkan upaya pembalasan Russell
terhadap Eddie. Bruce Coville juga memaparkan apa yang menyebabkan
Russell penakut, lemah dan ‘enak ditindas’ serta faktor yang menjadikan
Eddie bengis sekaligus gemar menjadikan anak ini korban. Singkatnya,
novel ini tidak hanya bagus untuk disimak anak-anak untuk
mengembangkan imajinasi. Orang dewasa, khususnya para ayah dan ibu,
patut membacanya. Pesan moralnya jelas: berhati-hatilah pada keinginan
kita.

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.