Catatan Penerjemahan Marriage Bureau for Rich People

January 11, 2011
2 mins

Saya tidak mengatakan bahwa penerjemahan novel ini sempurna, walau terus terang, saya sangat menikmatinya hingga hanya memerlukan satu bulan untuk mengerjakan termasuk catatan penerjemahan. Catatan ini merupakan kesan baca dan pernak-pernik yang diperkirakan dapat membantu pekerjaan editor ketika menelaah naskah terjemahan sebelum naik cetak.

Berikut catatan yang saya buat (sembari menerjemahkan waktu itu, agar tidak lupa):

Catatan umum

  1. Nama-nama kasta tidak diterjemahkan, misalnya Brahmin dibiarkan dan tidak menjadi Brahmana. Sebab terdapat banyak sub kasta yang tidak diketahui padanan Indonesianya.
  2. Bagian yang bertele-tele diberi highlight kuning
  3. Bagian yang berpotensi SARA diberi highlight merah.
  4. Kadang-kadang catatan tidak dibubuhkan dalam footnote, tetapi diselipkan atau dibuat kalimat tambahan dalam paragraf.
  5. Mangalsootram diterjemahkan mangalsutra untuk mempermudah pembaca
  6. Penulis mempunyai pola khusus. Orang-orang muda dicantumkan namanya saja, termasuk dalam dialog. Sedangkan yang lebih tua menggunakan Mr. dan Mrs. Kecuali bila kastanya lebih rendah.
  7. Istilah yang berpotensi membingungkan diganti dengan istilah lain. Misalnya ladies fingers menjadi okra.
  8. Untuk menghindari repetisi ‘ibunya’ dan ‘ayah Aruna’, digunakan ‘Mrs. Somayajulu’ dan ‘Mr. Somayajulu’.
  9. Bila dua orang sudah saling kenal, dialog menjadi ‘aku-Anda’ atau ‘aku-kau’ tergantung hirarki dan usianya.
  10. Istilah yang belum ada padanannya tidak diterjemahkan, antara lain district collector dan home science.

Kelebihan

  1. Terdapat sindiran mengenai korupsi pegawai negeri, baik dalam bentuk uang maupun waktu.
  2. Mengandung ilmu bisnis, antara lain menghadapi calon klien yang menawar harga terlalu murah atau menetapkan syarat yang berlebihan.
  3. Idealisme anak muda yang patut diteladani.
  4. Aroma Asia yang berdekatan dengan Indonesia.

Kekurangan

  1. Penulis gemar sekali membuka dengan keterangan waktu
  2. Beberapa bagian mengundang SARA, namun dapat ‘diselamatkan’ dengan catatan penerbit di muka bahwa hal tersebut bukan opini penulis/penerbit, melainkan penggambaran betapa buruknya karakter Mr. Ali jika sudah bersentuhan dengan kasta dan agama.
  3. Reaksi karakternya monoton. Berpikir sejenak, mendongak, dll.
  4. Tidak konsisten. Kadang ‘Mother’, kadang ‘Amma’.
Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.