Carut-Marut Wajah India Zaman Dahulu

January 18, 2011
2 mins

Judul: Buddha 1: Kapilawastu

Penulis: Osamu Tezuka

Penerjemah: Asha Fortuna

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, 2007

Tebal: 400 halaman

Pertama kali saya membaca kisah Siddharta Gautama dalam format komik, akhir tahun 80-an dahulu. Dilanjut dengan filmnya, Little Buddha, yang dibintangi Keanu Reeves. Namun novel grafis pertama yang tebal ini (dibandingkan yang pernah saya baca) sedikit banyak mengingatkan pada beberapa bagian Wolf Totem-nya Jiang Rong.

Yang disajikan lebih dulu adalah potret kondisi masyarakat India sebelum Siddharta lahir. Diskriminasi akibat pengkotakan yang bernama kasta, dan sorotan ditujukan lebih banyak pada mereka yang sudra dan paria. Seorang brahmana pengikut Guru Asita mencari sosok pencerah yang akan mengubah dunia sesuai petunjuk gurunya, hingga kemudian bertemu dengan Tatta si bocah ajaib yang sanggup merasuki binatang kecuali serangga, dan Chapra si budak bersama ibunya. Mereka menjadi kawan senasib. Toh, perlakuan awal pada sang rahib berbeda karena kastanya yang tertinggi bahkan melebihi para bangsawan.

Kisah-kisah pengorbanan dan kesetaraan perlakuan pada makhluk hidup di bumi kembali mengharubirukan hati saya. Terutama kala Tatta merasuki binatang bergantian, sehingga sang brahmana ditegur oleh Guru Asita. Menurutnya, tidaklah benar bahwa nyawa binatang perlu disepelekan. Mereka sama berharganya dengan manusia.

Sebagai dewa manga yang tersohor, Osamu Tezuka masih tampil dengan ciri khas gambarnya yang sangat akrab bagi para pembaca Astro Boy. Paduan unik antara manga ala Jepang dengan karakter India tempo dulu, dicairkan dengan terjemahan yang kadang agak gaul dan dapat dimanfaatkan untuk merengkuh pembaca remaja. Kepembacaan yang nikmat ini sedikit terganggu kala Osamu menghadirkan ‘bintang tamu’ berbusana dokter modern di klimaks cerita. Mungkin untuk menghindari kebosanan saja.

Walaupun cukup tebal, saya dapat menuntaskan buku ini dalam beberapa jam dan langsung terpikat untuk melanjutkan ke jilid kedua.

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.