‘Capote’ vs ‘Infamous’

November 06, 2010
2 mins

Poster Capote (wikipedia)

Sebenarnya saya sudah menonton kisah penggarapan novel (atau faksi?) kriminal In Cold Blood ini dalam format berjudul Infamous. Namun selalu menarik untuk menyimak interpretasi lain, terlebih Capote meraih sejumlah penghargaan dan sempat ditayangkan di TV beberapa waktu lalu. Di samping itu, saya perlu menghidupkan atmosfer kondusif guna mendukung pekerjaan di meja saat ini, yang terkait penulisan kisah nyata.

Poster Infamous (wikipedia)

Wajar saja bila penafsirannya berbeda. Capote berbahan baku biografi berjudul sama karya Gerard Clarke, sedangkan Infamous yang dilansir setahun kemudian berdasarkan Capote: In Which Various Friends, Enemies, Acquaintances and Detractors Recall His Turbulent Career yang ditulis George Plimpton.

Walaupun sama sekali tidak buruk, saya tidak terlalu menyukai Capote. Di sini, Philip Seymour Hoffman menampilkan potret sang penulis terlalu lembut (meski normal saja, mengingat Capote cenderung menyerupai wanita). Sisi eksentriknya, termasuk kedekatannya dengan Perry Smith, salah satu narapidana yang diwawancarai untuk kepentingan riset bukunya, ditampilkan teramat samar. Bahkan interaksi dengan Perry tadi terasa berjarak. Capote yang ini anggun, sedangkan Capote di Infamous bawel dan hidup.

Alm. Truman Capote (wikipedia)

Segi spesial lain, dalam Infamous, adalah penampilan Sandra Bullock sebagai Harper Lee (dalam Capote diperankan oleh Catherine Keener). Ia berhasil keluar dari stereotipe-nya sebagai aktris drama komedi romantis. Meskipun demikian, sub plot peluncuran novel To Kill A Mockingbird (yang belum juga saya baca sampai kini) menjadi poin menawan. Begitu pula pembacaan bab awal In Cold Blood.

Terlepas dari gaya penuturan dan kurang dramatisnya Capote dibandingkan Infamous (beserta Daniel Craig yang sanggup menghayati peran Perry Smith), kedua film ini menekankan hal serupa: menulis buku yang bagus dan cerita yang berterima di hati pembaca membutuhkan waktu tidak sebentar. Tidak ada kerja instan yang menciptakan kepuasan batin seorang pekarya.

In Cold Blood versi terjemahan (Goodreads)

Apakah setelah ini saya akan membaca In Cold Blood yang masih bertengger di lemari? Hmm..

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

4 Responses for this article

  1. on
    November 6th, 2010

    hehehehe… ni film masih rapi di rak folder movie, begitu juga bukunya yang masih anteng di rak buku… sama-sama belum tersentuh

    • Rini Nurul Badariah
      on
      November 7th, 2010

      Rasanya aku dapat Infamous juga dari Sinta, deh:D

      • on
        November 7th, 2010

        oiya ya? koq aku malahan lupa… btw kemarin sempat ke tempat orang jualan dvd, tapi pas di tempat malah bingung mau beli yang mana…

        …sepertinya otak mulai mendeg buat nemu film2 keren 😀

  2. Rini Nurul Badariah
    on
    November 9th, 2010

    Hehehe..browsing-browsing aja dulu, Sin, biar nggak salah beli:D