Bunga Pir Itu Disunting Sudah

January 22, 2011
3 mins

Judul : Warna Langit

Penulis: Kim Dong-hwa

Penerjemah: Rosi L. Simamora

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2011

Tebal: 328 halaman

ISBN: 978-979-22-6525-5

Harga: Rp 58.000,00

Sebelum ini, saya kerap bertanya-tanya alasan buku berseri kebanyakan terdiri dari tiga jilid. Mungkin dua terasa tanggung, atau empat terlalu panjang.

Berikut ini jawaban yang saya peroleh dari Tackle A Trilogy And Triple Your Profits, artikel Suzanne Harrison:
Why a trilogy? Believe it or not, there are deep psychological reasons that we do things in threes. The holy trinity is the Father, the Son and the Holy Spirit, and the Triple Goddess is Maiden, Mother, Crone, detailing the feminine journey through life. How many times have you heard the phrase “third time lucky”, or given someone “three guesses” or “three chances”? And of course in baseball it’s “three strikes and you’re out!”

Salah satu kiat menulis trilogi, menurut Harrison, ialah sebagai berikut:
Each book must stand alone as a complete story in itself.
Agaknya inilah yang dipenuhi oleh Kim Dong-hwa. Kendati novel grafisnya yang ketiga ini sangat dinantikan (walau tak sampai harus menanam bunga labu, seperti saran ibu Ehwa kepada putrinya yang gelisah dirundung rindu), tak ada cerita ‘terulur’ dari buku keduanya jika diperkirakan peta kisah Ehwa dan ibunya melalui tiga tahap:

  1. Ehwa kecil dan pembelajaran seksual dengan bahasa yang serba halus, termasuk bela rasa terhadap sang ibu yang telah lama hidup menyendiri.
  2. Ehwa remaja yang diterkam asmara, galau menafsirkan badai dalam hati dan memahami makna perpisahan.
  3. Ehwa dewasa yang menapaki hidup baru.

Warna Langit adalah paparan nan manis. Tak terasa duka memerangkap, hanya kehilangan yang wajar menghinggapi sanubari ibunya. Ia mendadak merasa tua, tidak siap ditinggalkan sang putri yang baru berumur tujuh belas tahun. Dialog mereka semakin transparan, tak terlalu banyak menyematkan metafora kendati masih dihiasi bebungaan dan elemen kultur Korea. Kesetiaan dianalogikan kupu-kupu gunung dan bebek Mandarin, bahkan kupu-kupu api yang dipandang mengecap cinta sejati kendati hidupnya amat singkat. Cinta hadir lewat perlambang boneka salju, panggilan di malam dingin berupa peniruan suara tekukur, dan keyakinan bahwa salju serta burung magpie membawa kabar gembira.

Selanjutnya, bab perkawinan yang cukup gamblang mengenai bilik terintim dalam kehidupan suami-istri. Di sini pun, dialog masih ditaburi metafora.

Buku ditutup dengan daftar pertanyaan untuk diskusi yang menggugah konektivitas cerita Warna Langit dengan kekinian. Salah satu nasihat ibu Ehwa yang berkesan ialah tentang ‘berbahayanya’ seorang wanita bila memiliki terlalu banyak waktu luang (baca: menganggur).

Omong-omong, bawang hijau itu apa ya? Bawang daunkah?

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.