Menerjemahkan Seri Urban Fantasy Remaja:City of Masks

October 15, 2011
4 mins

There are some things that need the dark.” (hal. 128)

Waktu itu, saya masih berpraduga bahwa Orange Books (kini Nourabooks) ‘setia’ di jalur klasik. Saat Mbak Dee menanyakan kesiapan jadwal, saya berjanji akan mengabari. Pasalnya, kalau mematok waktu (katakanlah, tanggal sekian bulan anu), saya khawatir meleset. Berdasarkan pengalaman, kadang ada pekerjaan yang mundur atau selesai lebih cepat.

Saya lupa, saat itu baru merampungkan apa. Sungguh kejutan ketika Mbak Dee menawarkan terjemahan fantasi. Buku seri, pula. Menyambut tantangan baru ini adalah doa yang kontan terkabul, sebab belum lama saya mengobrol-ngobrol dengan Dhyan dan kami sepakat menjajaki genre tersebut meski sebelumnya pernah meragukan kemampuan sendiri. Fantasi memang sedang naik daun dan penggemarnya terbilang antusias. Karenanya, saya agak gentar:D. Pengalaman saya belum banyak, baru bersentuhan dengan Demon’s Lexicon dan Wind in the Willows.

Begitu mulai mengerjakan, ternyata ini fantasi yang masih sanggup saya cerna. Seri Stravaganza ini termasuk urban fantasy, yang menurut goodreads berarti:

a subset of contemporary fantasy, consisting of magical novels and stories set in contemporary, real-world, urban settings–as opposed to ‘traditional’ fantasy set in wholly imaginary landscapes. The urban fantasy protagonist faces extraordinary circumstances as plots unfold in either open (where magic or paranormal events are commonly accepted to exist) or closed (where magical powers or creatures are concealed) worlds. A romantic subplot may or may not exist within the context of the story.

Bukunya sendiri, oleh Goodreaders, dikelompokkan dalam genre petualangan, time travel, fiksi ilmiah, historical fiction, bahkan romance dan buku anak! Menurut saya dan pihak penerbit, Stravaganza adalah bacaan remaja ke atas (young adult) sebab karakter utamanya berusia 16 tahun. Cerita mengandung unsur dunia paralel, sehingga saya bersyukur sudah membaca dan menonton Coraline.

Penerjemahannya sangat menyenangkan dan saya tidak merasa seperti sedang bekerja, hanya membaca dan larut dalam plot yang cepat. Saat sempat ambruk dan terjemahan sudah lebih dari separuhnya, saya teruskan membaca sampai tuntas. Semua karakternya berkesan, dan sebagaimana yang saya idamkan, tidak ada perempuan yang ‘lemah’ dalam arti hanya bisa menjerit-jerit dan kebingungan ketika menghadapi bahaya.

Cover buku asli, dari sana

Kendala yang saya khawatirkan adalah pada karakter William Dethridge, yang berasal dari era Elizabethan dan berbahasa lumayan ruwet. Begini contohnya, “And wel ycome to the Brethrene. Me thought not to mete anothere suche as my selfe.” Syukurlah saya masih bisa memahami kalimat-kalimat tersebut sehingga proses alih bahasa tetap lancar. Di dalamnya pun ada proses membuat kembang api yang mengasyikkan.

City of Masks juga membuka mata saya akan Italia yang eksotis. Saya hanya menonton beberapa film mengenai negeri tersebut (termasuk jika dicuplik sebagai salah satu lokasi) dan bisa dikatakan tidak tahu banyak. Keriuhan festivalnya dan aneka istilah berbahasa Italia menimbulkan pengaruh ajaib. Tidak biasanya, saya senang menerjemahkan deskripsi dalam novel ini. Rasanya seperti berjalan-jalan ke Italia abad ke-16, menyusuri museum-museum dan aneka pernik indah. Tentu berkat kecakapan Mary Hoffman menulis pula, membubuhkan legenda dan unsur yang saya amat sukai: drama keluarga.

[spoiler] Ada yang mengeluh tentang POV-nya yang berubah-ubah, sementara menurut saya itu pencegah kebosanan. Ada pembaca lain yang menyayangkan karena Lucien meninggal di akhir cerita, namun itu juga di mata saya merupakan keberbedaan menarik [/spoiler]

Menyenangkannya lagi, ketika saya sapa di medsos, Mary Hoffman membalas dengan ramah. Ia pun mem-follow back akun twitter saya, padahal saya tidak minta:)

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

6 Responses for this article

  1. on
    October 15th, 2011

    Wah, seru. Time travel ke Italia! Kebayang naik gondola di abad 16 :D. Unsur dunia paralelnya yang kayak gimana, Rin? Belum nonton Coraline.

    • admin rinurbad.com
      on
      October 15th, 2011

      Di sini namanya mandola, D. Kepikir aja yak penulisnya ngarang-ngarang nama:D Nama negerinya juga bukan Italia, tapi Talia aja.
      Unsur dunia paralelnya semisal, di sana yang paling berharga adalah perak, bukan emas. Emas dinilai paling ‘murahan’.

  2. Istiani Prajoko
    on
    October 16th, 2011

    Menarik. Dunia fantasi memang luas tak terhingga.

    • admin rinurbad.com
      on
      October 16th, 2011

      Betul, Mbak:)

  3. on
    October 26th, 2011

    Asik! Aku mau minta yang ini, ah *tring*

    • admin rinurbad.com
      on
      October 27th, 2011

      Makasih ya, Nik. Terharu pada milih ini ^_^