Bahasa Penuh Pesona (2)

February 18, 2011
4 mins

Berpindah ke Lain Hati

Apa yang terjadi esok hari adalah sepenuhnya rahasia Yang Maha Kuasa. Hal ini saya maknai betul tatkala berada di antrian panjang untuk mengembalikan formulir pendaftaran UMPTN tahun 1994.

Hanya Allah yang tahu penyebab saya mendadak mengubah pilihan kedua dari Sastra Jerman menjadi Sastra Prancis. Saya mendengarkan suara hati yang seakan menggedor tanpa henti. Mungkin bisa disebut nekad karena pengetahuan bahasa Prancis saya benar-benar nihil. Saya hanya pernah membaca sedikit mengenainya dalam novel-novel Enid Blyton.

Syukur alhamdulillah, saya diterima di jurusan Prancis. Sempat juga mendaftar diploma tiga sebagai langkah antisipasi. Di kemudian hari, saya mengetahui bahwa D3 diarahkan pada bahasa dan pariwisata sedangkan S1 cenderung pada keilmuan dan sastra.

Pengumuman UMPTN yang membahagiakan itu membuka lembaran perjalanan panjang, sesuatu yang dinamakan pengorbanan demi cinta. Cinta dengan bahasa Jerman yang saya putuskan lebih dulu (walaupun saya masih menyukainya) demi menjejak dunia baru. Dunia yang dalam tempo singkat menunjukkan liku-liku dan kesulitan di luar dugaan saya.

Materi kuliah sangat padat dan menuntut kerja keras. Apa yang saya baca dalam serial Malory Towers bukan rekaan semata. Masih untung, saya tak perlu menghafal puisi bahasa Prancis untuk lulus ujian lantaran tidak memilih spesialisasi Sastra pada semester ketujuh. Akan tetapi tidak berarti perjuangan di jurusan Linguistik bisa dikatakan ringan. Bersemester-semester saya berlatih mengucapkan ‘r’ supaya mendekati bunyi yang benar, juga ‘eu’ sampai mengundang rasa geli teman-teman dan adik angkatan yang belajar bersama kami. Biarlah wajah saya tak karuan ketika mengucapkan suatu kata daripada mendengar komentar pedas dosen. Kami yang mulai dari nol (termasuk anak-anak IPC yang mengaku terdampar di jurusan ini) harus mengejar ketinggalan dari mereka yang sudah belajar bahasa Prancis di SMA atau setidaknya les beberapa bulan sebelum mulai kuliah.

Proses belajar bahasa asing tentu mengandung sisi-sisi fun pula. Seorang dosen mata kuliah umum pernah berseloroh di muka kelas, “Anak sastra asing jangan ngomongin orang di angkot, ya, mentang-mentang yang lain nggak ngerti.” Kami tertawa geli karena teringat pengalaman beberapa teman mahasiswa Sastra Arab. Ketika bercakap-cakap menggunakan bahasa Arab dalam angkutan umum, penumpang lain serempak berkata, “Amin..” padahal teman-teman kami itu hanya mengobrol biasa.

Cinta Itu Masih Ada

Kecintaan pada bahasa asing menggiring langkah saya untuk memekarkannya di taman-taman yang berbeda, seperti menjadi web copywriter bilingual. Tatkala merintis jasa penerjemahan freelance, order yang mampir 99% adalah bahasa Inggris. Saya menyadari kenyataan di lapangan bahwa perusahaan Prancis di Bandung teramat sedikit.

Minimnya peluang untuk menggunakan bahasa yang saya pelajari selama tujuh setengah tahun tidak membuat saya serta-merta menghapusnya dari memori. Jujur saja, saya menemui kesulitan bila harus berbahasa Inggris lisan karena bertumpang-tindih dengan aksen bahasa Prancis. Contohnya, saya otomatis mengatakan magnifique dan bukan magnificent. Juga excellent dengan lafal Prancis (‘ekselang’), bukan ‘ekselen’.

Saya tak hendak memaksakan diri berjalan sesuai ‘jalur’. Setiap pengalaman, berhubungan langsung atau tidak dengan apa yang saya minati, sangat berharga. Saya pernah menangani proyek-proyek proofreading naskah terjemahan bahasa Arab, menulis transkrip film dan rekaman siaran radio berbahasa Inggris, serta menyunting naskah buku non fiksi karya penulis dalam negeri. Cakrawala bahasa teramat luas untuk dijelajahi dan masing-masing segi menghadirkan pengetahuan yang bermanfaat.

Bahasa mengajarkan saya sesuatu yang bernama fleksibilitas. Daftar perkecualian yang tak bisa dihafalkan dengan rumus baku, perubahan yang sangat lentur dan biasa disebut pergeseran makna beserta aspek-aspeknya dalam interaksi dengan sesama manusia, serta persentuhan dengan rasa. Kian jauh saya menapaki bidang ini, kian dalam cinta saya. Saya tidak menyesal karena pernah membiarkan diri ‘terjerat’ olehnya.

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.