sumber: Goodreads

Penulis: Stieg Larsson

Penerjemah: Nurul Agustina & Nur Aini

Penerbit: Qanita

Tebal: 948 halaman

Cetakan: I, Januari 2011

ISBN: 9786028579452

Pertanyaan di atas tentu menghinggapi benak para penggemar Lisbeth Salander, karakter paling mencorong dalam seri Blomkvist & Salander ini. Akhir buku keduanya dipandang menggantung, sebagaimana tergambar dalam film versi Swedia. Meskipun cukup jauh jarak buku ketiga ini dengan yang sebelumnya, beberapa hal masih melekat dalam ingatan saya. Menjauhnya Salander dari Blomkvist, pertemuan Salander dengan orang-orang masa lalunya, antara lain sang ayah yakni Alexander Zalachenko, dan kematian tragis pasangan yang mencoba menguak perdagangan perempuan, Dag dan Mia. Kedua karakter ini merupakan simbol kuat sepak terjang Larsson dan kekasihnya, Eva, yang sama-sama idealis tetapi menanggung akibat tak dapat meresmikan hubungan ke jenjang pernikahan karena bahaya besar yang mengancam mereka.

Sosok-sosok dan berbagai kasus yang mengemuka di kedua buku terdahulu memperjelas kepedulian Larsson terhadap kekerasan atas wanita dan anak-anak secara umum. Banyak fakta diungkap dalam novel ini menyangkut perspektif legal Swedia, yang bisa jadi mencengangkan, misalnya bahwa pornografi melanggar hukum, tetapi tidak demikian dengan prostitusi.

Seperempat bab awal terasa menggelayut sebab Salander pasif. Ia terkurung di rumah sakit dan cerita didominasi dialog serba berat, termasuk perkara politik dan keterlibatan SIS. Perlahan-lahan ditampakkan modus pembunuhan Bjurman, orang-orang di belakang Zalachenko, dan pihak-pihak yang memperhatikan Salander dengan kacamata berlainan menurut kepentingan mereka. Liukannya mulai terasa kala Erika meninggalkan Millennium dan beranjak ke kantor baru sebagai pemimpin redaksi.

Novel ini diterjemahkan oleh dua orang, tetapi saya tidak merasakan ‘jurang’ gaya. Cerita masih memuat komponen kerja jurnalisme, investigasi, serta dua unsur yang paling memikat bagi saya: psikologi dan teknologi informasi. Semua meluncur secara mengasyikkan tatkala Salander kembali bersentuhan dengan komputer dan menjalankan aktivitas di Republik Hacker. Bagaimana caranya? Silakan baca sendiri.

Larsson kian tekun menghadirkan gelap-terang penokohan yang menjadikan Girl Who Kicked The Hornet’s Nest kian gembur dan membianglala. Di antara sesama hacker, tak ada yang gratis. Semua misi diberi imbalan besar. Itu menarik. Kemudian ada keahlian-keahlian yang dapat dimanfaatkan dalam penyelidikan, di antaranya membuka kunci. Masih terdapat sub plot yang membuat mata kian sulit berkedip, yaitu teror terhadap Erika. Sungguh bidang profesi yang amat mendebarkan.

Salander masih berhadapan dengan ancaman penjara, sebab ia dituduh sebagai pelaku percobaan terhadap Zalachenko dan beberapa orang lain. Saya ikut meringis kala ia sakit kepala parah dan nyaris ‘lumpuh’ di tempat tidur rumah sakit, lantaran peluru bersarang di kepalanya. Saya turut gemas sekaligus tegang ketika Annika Giannini, adik Blomkvist, memutuskan menjadi pembela Salander tetapi gadis itu menutup diri seperti biasa. Blomkvist masih dengan petualangan asmara, tanda-tandanya dapat diraba.

Mulai halaman 600-an, kecepatan penceritaan kian terasa. Saya sangat menikmati percakapan melalui ICQ (jadi kangen menggunakan perangkat komunikasi maya satu ini) dan adegan baku hantam yang bertaburan. Di sini kembali muncul sejumlah karakter perempuan tangguh. Salander sendiri, Erika Berger yang tidak takut berada di rumah meski diteror, Susanne Linder seorang mantan polwan yang bekerja untuk Milton Security, dan Monica Figuerola yang gila olahraga namun, uniknya, tidak berpantang makan apa pun. Tidak lupa, tentu saja, Annika Giannini.

Sebagaimana dikemukakan seorang penerjemahnya, sub plot persidangan Salander luar biasa mengesankan. Di situ tergambar dengan jelas bahwa setiap ucapan perlu dicermati karena dapat menggelincirkan orang yang mengatakannya.

“Saya ulangi pertanyaannya: apakah Lisbeth Salander pernah melukai dirinya sendiri? Ya atau tidak?” (hal. 848)

“Anda membelokkan kata-kata saya.”

“Benarkah? Jadi, tato adalah bagian dari ritual sosial yang dapat diterima jika saya atau anak muda lain yang memilikinya. namun, ketika mengevaluasi keadaan mental klien saya, tato menjadi sesuatu yang berbahaya. Menurut pendapat Anda, mengapa perbedaan itu bisa terjadi?” (hal. 849)

Ada buku yang dibuka dengan serba cepat, lalu berangsur-angsur menurun sampai akhir. Buku lainnya dikuak perlahan saja, namun kemudian berderap kian kencang. Anda suka yang mana? Saya memilih yang kedua.

Sungguh tidak menyesal, saya menunggu sekitar satu tahun hingga terjemahan buku ketiga ini terbit dan memilih edisi aslinya dalam Goodreads Choice Awards 2010 kategori Mystery and Thriller.

Sedikit hambatan: font-nya mungil:)

Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.