Babak Belur Berjamaah

February 18, 2011
5 mins

Seharusnya menjadi pekerja mandiri alias freelancer menjadikan saya lebih giat. Profesi menerjemahkan tidak mengenal uang muka. Sewaktu menangani proyek menyunting naskah karya asli, kadang-kadang saya memberlakukan sistem itu. Tetapi sangat jarang, hanya bila tenggat waktunya semepet Bandung Bondowoso ketika berhasrat memperistri Roro Jonggrang (dan sekarang saya sudah enggan melakukan pekerjaan semacam ini, sebab Bandung Bondowoso yang dibantu pasukan jin pun hanya memperoleh sebentuk arca). Lagi pula uang muka cenderung mengikat, setiap saat klien dapat menagih sementara saya masih menghimpun konsentrasi untuk memulai bab-bab pertama.

Pada hari-hari awal menuju sang batas waktu (katakan saja H-30, tenggat tercepat yang sanggup saya terima untuk menerjemahkan buku), saya masih menggeletak capai. “Lagi jadi uler ya, De?” begitu seloroh kakak sepupu yang juga freelancer, kendati bergerak di bidang lain, sambil nyengir. Saya merasa perlu menebus waktu tidur yang kurang, padahal begadang sih jarang. Hanya saja jika detik-detik menuju auman singa mati kian dekat, merebahkan tubuh sejenak tak pernah terasa nyaman dan leluasa. Saya perlu jalan-jalan dan makan di luar, bersama suami yang terpaksa diabaikan pada masa-masa genting karena saya lebih kerap memelototi layar monitor dan berkas terjemahan dibandingkan mendengarkan ceritanya atau menikmati film kesukaan kami berdua. Saya butuh melihat dunia (meskipun jauh dari rumah, hawa Bandung yang mulai dicemari polusi acap kali membuat saya sakit kepala) dan menghanyutkan sisa-sisa kalimat, frasa, dialog, serta kosakata apa saja yang tertinggal dari proyek sebelumnya.

Tahu-tahu sudah pertengahan bulan dan waktu berjalan bagaikan rem yang blong. Bab pertama masih berserakan, bab kedua bolong-bolong, bab ketiga perlu dipoles setebal rias wajah pemain lenong..

Duar! Hari-hari sensitif sang seniman kamus (memodifikasi artikel mengenai para pelukis yang hendak berpameran di majalah wanita lama) pun harus diawali. Itikad baik dipancangkan untuk berdisiplin. Tidak menjenguk Facebook, set Yahoo! Messenger dengan status Busy atau Invisible sama sekali, mencoba cabut modem barang satu hari tetapi sukar karena banyak peristilahan perlu diperiksa dan ditelusuri sedangkan kamus cetak tak selalu memadai, kebutuhan untuk bertanya dan berdiskusi yang sesekali ditingkahi mengintip blog dan menjawab email, dan begini..dan begitu…

Dan inilah saatnya para penerjemah dilanda kemrungsung, biarpun tidak sedang dilanda PMS.

Don’t ask,” kata seorang sahabat saya di kotak YM, ketika kami baru saling menyapa.

About?” saya garuk-garuk kepala yang tidak gatal.

About that novel,” katanya. Yang dimaksud adalah buku yang sedang ia terjemahkan dan agak tersendat-sendat. Saya nyengir. Oke, oke. Menanyakan “Sudah berapa halaman?” atau “Sudah mau selesai?” pada waktu-waktu seperti itu berarti minta dilempar kampak. Sedikit-dikitnya, disuguhi icon manyun.

Semua tahu, bete bersifat sangat mudah menular. Demikian pula tawa. Karena keluh-kesah dan gerutuan tidak menjadikan terjemahan serta-merta meluncur dengan sempurna, maka senyum dan gelak yang diupayakan selalu hadir. Minimal, tidak membuat tetangga sebelah (baca: pasangan hidup) tidak betah di rumah karena ada yang rajin cemberut akibat sebab-sebab yang tidak berhubungan dengan dirinya.

Godaan memang semakin rajin mampir, tatkala kita berusaha menertibkan diri. Baru mulai mengetik setengah halaman..blap! PLN main sulap. Walaupun hanya lima atau sepuluh menit, mood sudah telanjur keriting. Atau sedang balap mengejar target harian, entah kenapa modem ngambek dan layar monitor dihiasi warna biru mengerikan.

Oh, I’m feeling so blue..blue screen,” celoteh sahabat saya di provinsi seberang, yang hampir selalu mengalami gangguan teknis macam ini.

Agar urat jantung tidak putus, stok kesabaran tidak cepat menipis, timbun tawa banyak-banyak. Error bersama menjadikan perjuangan menuntaskan pekerjaan dengan baik dan benar tidak diwarnai sengsara. Semisal ketika sahabat saya menelepon, “Hati preman gini kok harus nulis kalimat romantis?”

Saya cekikikan. Ia memang tengah menghadapi fiksi yang tidak ‘gue banget’, kata anak zaman sekarang. Maka saya membalas, “Udah deh, aku yang terjemahin dua halaman. Kamu garap dua halaman punyaku. Mau mau?”

Kami tergelak bersamaan. Yah, beginilah dunia kerja yang seru. Mengotak-atik sedikit judul film lama, Rini, Masih Ada Deadline yang Akan Lewat.

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.