Aku Ber-facebook Maka Aku Ada

January 09, 2011
3 mins

Judul: Aku Ber-facebook Maka Aku Ada
Cerita dan Gambar: vbi djenggoten
Penerbit: Bikumiku
Tebal: 106 halaman
Cetakan: I, Juli 2009
ISBN: 978-602-95228-0-8

Komik dapat berfungsi sebagai perangkat pemotret fenomena akurat di masyarakat sekitar. Vbi Djenggoten membidik situs jejaring sosial Facebook yang naik daun dalam tempo relatif singkat belakangan ini. Begitu melejitnya FB sehingga bukan hanya Friendster yang tergerus, namun juga Multiply yang kemudian menelurkan aplikasi guna ‘mengawinkan’ konten.

Komik ini dimulai dengan pengenalan Facebook kepada kalangan yang mungkin saja belum atau tidak berstatus Fesbuker [akhir-akhir ini juga dititeli Jamaah Fesbukiyah]. Berderet keasyikan yang dapat direguk darinya, termasuk bagi produsen Blackberry selaku salah satu gadget yang terciprat Fesbukisme di Indonesia. Tak pandang usia, latar belakang, FB selalu melanda.

Tak ayal, ‘hobi’ yang awalnya diniatkan pergaulan semata ini memicu dampak-dampak negatif. Bijaknya, Vbi memaparkan sisi terang lebih dahulu. Sejumlah cerita dihadirkan sebagai contoh kasus yang tak pelak menerbitkan senyum geli atau menyemburatkan muka bila tergolong pelaku, misalnya sebentar-sebentar berfoto demi Facebook. Sindiran yang ‘nendang’ terasa sekali di salah satu panel halaman 95, “Waa..Si Rini udah di Jepang, banyak duit pasti.” Diakui atau tidak, kemudahan update status di FB berpotensi besar menjerumuskan kita pada gaya hidup konsumtif sekaligus pamerisasi materi yang berakibat dengkinitis. Belum lagi kebiasaan curhat colongan yang, saking kronisnya, berkembang menjadi curhat rampokan. Padahal tak bisa dipungkiri, menyuburnya pertemanan nyaris tanpa batas di FB membuat kita lupa bahwa di antara list panjang itu terdapat anggota keluarga, mantan bos, teman sekolah, dan banyak lagi yang bisa saja tersinggung atau menarik kesimpulan tertentu lantaran membaca status berikut komen-komennya.

Dari segi fisik, komik indie ini spesial dan nyata benar digarap apik [tanpa mengurangi rasa hormat pada komikus independen lainnya]. Konsentrasi tercurah pada layout, tataan ilustrasi dan elemen tampilan yang serba rapi. Akan lebih ‘mencrang’ lagi bila editing dipercermat karena masih ada kata ‘merubah’ nyelonong di dalamnya, juga dipertajam isu-isu efek kurang baik FB pada anak-anak di bawah umur. Sentilan yang tersaji terbilang halus, seperti penyematan istilah ‘kantor non swasta’ di suatu panel. Aku Ber-facebook Maka Aku Ada dapat dikategorikan komik How-To, mengingat terkandungnya tips-tips guna menghindari kebobolan privasi dan risiko diakses orang tak dikehendaki dalam ranah gaul yang mudah pula ditayangkan di layar ponsel ini.

Masih kecanduan FB? Masih lebih suka kirim hadiah virtual lewat aplikasi daripada menyingsingkan lengan dan mencomot waktu? Masih suka ketik update status di dapur atau kamar mandi? Bacalah komik ini, dan mari sama-sama bercermin.

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.