Aisha, Karena Cinta Tak Bisa Direncanakan

January 31, 2011
3 mins

Sumber gambar: forum detik.com

Yang membuat saya tertarik menyewa film ini di rental langganan adalah catatan dalam sinopsis bahwa Aisha merupakana daptasi dari novel klasik Jane Austen, Emma. Saya belum pernah membaca buku tersebut, akan tetapi sangat terkesan dengan adaptasi Bollywood terhadap novel lain karya pengarang yang sama, Pride and Prejudice yang dijadikan Bride and Prejudice. Terus terang, tak seorang pun pemain film ini yang saya ‘kenal’. Intinya, saya benar-benar mengambil risiko.

Aisha adalah nama seorang gadis yang ‘sok tahu’ dan sibuk mencampuri urusan pribadi orang lain. Ternyata kesan seperti demikian bisa timbul pada wanita muda yang asyik berpesta dan menjodoh-jodohkan orang. Sonam Kapoor sukses mengukuhkan impresi itu pada karakter Aisha sehingga saya sempat ikut jengkel dan mengomel-ngomel hampir sepanjang film. Dia cantik, tapi impulsif, senang mengatur orang lain, dan kurang peka terhadap teman-temannya. Dengan penuh semangat, Aisha mengajak Pinky, sahabatnya, mendandani seorang gadis yang baru datang ke kota, Shefali, sehingga tidak kelihatan terlalu lugu dan menarik bagi pria di kalangan pergaulan mereka.

Aisha menyibukkan diri dengan hal-hal yang kurang penting, termasuk menghamburkan uang ayahnya, dan tidak mencari nafkah sendiri. Ia berupaya menjodohkan Shefali dengan Randhir, pemuda yang terus membuntutinya. Berulang kali sahabatnya sedari kecil, Arjun, menasihati, tetapi Aisha tutup kuping. Diam-diam gadis ini cemburu pada Aarti, kenalan Arjun dari New York, yang selalu diajaknya ke mana-mana.

Seperti rata-rata komedi romantis, film ini menyisipkan beberapa adegan yang mengundang tawa, misalnya ketika Randhir bersulang untuk Aisha dan mendadak hujan deras. Saya terperangah lantaran baru kali ini nonton film India yang sangat ‘modern’, mulai dari pakaian Aisha dan Pinky yang cukup terbuka serta mempertunjukkan tari flamenco dan salsa (kalau tidak salah). Agaknya, kreator Aisha berusaha sedekat mungkin dengan komedi romantis ala Hollywood sehingga seorang ayah bahkan menyuruh putrinya keluar rumah lewat tengah malam.

Bagaimanapun, Aisha mengandung banyak pelajaran. Saya meresapi air mata Aisha kala menyadari kekeliruan-kekeliruannya. Sungguh manis kala Pinky berkata, “Aku bukan yang paling cantik, juga tidak cerdas, tapi begitulah diriku di matanya.” Saya sibuk mengingat-ingat sebab wajah Shefali dan Aarti (tepatnya, para pemeran mereka, tentu saja) terasa familier. Pemeran Aarti, Lisa Haydon, bahkan amat mirip dengan model dan bintang film Fahrani.

Aisha dihiasi tari-tarian yang enerjik, walaupun tidak sampai putar tiang dan memakan waktu berjam-jam (bahkan relatif singkat, sekitar dua jam saja durasinya). Usai yang satu ini, saya tidak kapok kok, nonton film India:)

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

3 Responses for this article

  1. on
    February 9th, 2011

    kayaknya seru, nih 😀
    kadang suka nonton film india pas lagi begadang, dll..
    inget 3 idiots yang seru itu, jadi suka nonton film india 😀

    • Rini Nurul
      on
      February 9th, 2011

      Hehehe…aku belum nonton 3 Idiots.
      My Name is Khan juga baru beberapa menit, belum dituntaskan.

      • on
        February 11th, 2011

        aku rekomendasikan 3 idiots 😉
        menurutku, keren banget, mbak, penuh filosofi, hehe