Agenda dan Penjadwalan

March 19, 2011
3 mins

Setiap pagi, begitu terjaga, saya langsung berpikir, “Ini hari apa?” Sebenarnya tidak pengaruh benar terhadap urusan keluar rumah, karena sewaktu kendaraan menderu menembus kepadatan jalan sekitar pukul enam pagi, saya masih boleh berleha-leha di tempat tidur kalau mau.

Apa lagi kaitannya kalau bukan kuota/sisa halaman yang belum selesai diterjemahkan atau disunting.

Dulu, saya sering stres sampai tidak bisa tidur. Bahkan di waktu kurang enak badan sekalipun. Syukurlah ini bisa diatasi setelah meja kerja berikut komputer (waktu itu masih memakai Toshi tua) dan whiteboard dipindahkan ke luar kamar. Masih tertekan juga, saya hapus jadwal di papan tersebut. Tentu ini opsi kurang bijak mengingat saya tergolong pelupa akut. Alangkah menyenangkannya ketika halaman yang tersisa sudah di bawah 100.

Memang begitulah seharusnya. ‘Tinggal enam bab’ bukan ‘enam bab lagi’. ‘Tinggal delapan puluh halaman’, bukan ‘masih delapan puluh halaman lagi, hiks’. Tapi sulit juga mempraktikkan ‘tinggal dua puluh tujuh bab’.

Kemudian Mas Agus membelikan perangkat khusus berupa jam pasir, tepatnya jam cair. Jujur saja, sampai kini lebih sering saya pandang-pandang sebagai hiasan meja daripada dibalik. Merujuk sebuah web khusus kerja freelance, hendaknya ini dijadikan timer. Sebalik kerja, sebalik istrahat. Sebalik ngetik, sebalik chatting. Sebalik buka kamus, sebalik ngerumpi lalu lupa memosisikan lagi.

Lantas saya mengamati Mas Agus. Sejak menjadi pekerja lepas 13 tahun silam (kurangi setahun ngantor), dia tidak pernah menekuk muka. Harus ke luar kota karena urusan keluarga, ya melencer saja. paling-paling bawa laptop dan memberi tahu klien. Ngantuk, geletak. Ingin nonton bola, cuek. Ada rapat RT, tidak seperti saya yang langsung berpikir, “Duh, kalau dipake kerja sudah berapa halaman nih…”

Itulah yang kerap menyerang saya. Rasa bersalah, padahal tubuh dan otak perlu santai.

Saya bertanya kepada teman-teman editor in house. Rasanya kok ‘mustahil’ bisa menyunting dengan konsentrasi penuh ditingkahi telepon, diskusi dengan atasan, menerima tamu, dan banyak lagi. Tapi rata-rata mengatakan sudah biasa switch ke berbagai urusan. Selingannya paling ngopi, jalan ke luar, lihat pemandangan dari jendela. Target diniatkan, meski kadang meleset juga.

Maka saya kombinasikan keduanya. Walau rambut Mas Agus kian memutih sewaktu tenggat merapat, ia tidak pernah lupa tersenyum dalam timbunan kerja. Ia tidak pernah memikirkan tenggat ketika kami sedang kencan atau makan di luar. Pokoknya dikerjakan, bukan dipikirkan berkepanjangan.

Mulailah saya pelan-pelan melupakan sistem target, yang lebih sering kendor dibandingkan jitu kemarin. Kerja boleh mulai pagi, siang, sore, atau agak malam (malam versi saya adalah jam setengah tujuh), supaya tidak kemrungsung bila ada selaan mendadak. Ternyata lebih efektif. Tidur saya lebih nyenyak dan badan tidak kelewat capai. Ternyata stres yang melanda sebelumnya juga dikarenakan perfeksionisme, padahal sudah jelas, mana ada yang sempurna di dunia ini. Kasarnya, sudah melototi teks sampai baris terakhir dan mata bengkak pun, ada saja yang terlewat.

Waktu tetap 24 jam, meski kita kerap merasa kekurangan. Tapi bayangkan kalau ditambah satu jam saja, apakah menjamin kita berhenti mengeluh?

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

5 Responses for this article

  1. Jimmy
    on
    March 19th, 2011

    Waktu tetap 24 jam, jadi mari dinikmati saja 😀

    • Rini Nurul
      on
      March 19th, 2011

      Karena itu deadline sampai jam 23.59 ya, Jim:)

  2. Jimmy
    on
    March 19th, 2011

    Oppsss..maaf, komen pertama salah, tolong dihapus ya 🙂

  3. on
    March 19th, 2011

    “Pokoknya dikerjakan, bukan dipikirkan berkepanjangan”–masku juga pernah blg gini :D, secara aku parnoan 😀 mas agus mirip deh sm masku 😀

    • Rini Nurul
      on
      March 19th, 2011

      Toss!:D Mudah-mudahan Retno bisa lebih cepat menerapkan trik rileks ini ya, tak sampai usia 30-an kayak aku:)