Agar Tidak Jenuh Menyunting Naskah

January 10, 2011
42 secs

Mengapa tulisan kita harus disunting sendiri? Bukankah ada editor di penerbit? Penulis yang baik tidak akan sepenuhnya bergantung pada editor. Menurut saya, salah satu kesuksesan besar seorang penulis adalah kala naskahnya bebas dari sentuhan editor alias mulus bak jalan tol. Berikut ini kiat yang cukup ampuh untuk mengatasi rasa jenuh ketika menghadapi naskah yang harus disunting.

Pertama, banyak-banyak baca karya yang bagus. Misalnya novel atau buku non-fiksi. Lebih baik lagi bila jenisnya sama dengan naskah yang sedang kita sunting. Membaca diksi yang enak disimak dan plot yang readers-friendly akan menimbulkan semangat serta motivasi tinggi untuk menghasilkan naskah (hasil suntingan) yang sama bagusnya. Bahkan lebih bagus, jika bisa.

Kedua, visualisasikan tugas tersebut sudah selesai. Bayangkan betapa leganya perasaan kita saat itu. Beban takkan lagi mengganjal, dan kita dapat berkonsentrasi mencapai target serta menepati tenggat. Bukan asal cepat selesai, tentu saja. Bayangkan bila editor atau penerbit naskah kita menyatakan rasa puas atas hasil yang optimal itu.

Ketiga, kerjakan secara acak. Ini kiat umum dan mungkin tidak sesuai dengan konsep, orang atau pekerjaan tertentu. Tidak perlu menyunting berurutan, bisa saja dari bab paling akhir sebelum kembali ke awal. Tetapi perlu dicek ulang.

Terakhir, ini juga sangat umum. Bagi tugas menjadi kecil-kecil. Ini penting untuk naskah yang panjang.

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.