Agar Tidak Dilupakan Klien Penerbit

October 03, 2011
31 secs
Beginilah batik cirebonnya setelah diolah -D

Seorang penerjemah pernah menceritakan pada saya bahwa ia sempat vakum selama beberapa bulan karena cuti melahirkan sehingga ‘kehilangan’ klien tetapnya, sebuah penerbitan. Cukup lama ia memperoleh order lagi setelah memutuskan aktif kembali.

Beragam alasan yang membuat seorang penerjemah/editor freelancer ‘beristirahat’. Selain keluarga, bisa jadi yang bersangkutan terikat kewajiban dengan satu penerbit tertentu, misalnya memperoleh proyek terjemahan/editan berupa buku seri. Bisa juga alasan kesehatan atau yang lazim terjadi, tumpukan antrean.

Berikut ini tip dari seorang editor in house yang tidak ingin disebutkan namanya.

Agar tidak ‘dilupakan’ oleh klien, selama break, tetaplah menjaga komunikasi. Misalnya mengomentari wall dan grup FB penerbit itu, membaca dan berdiskusi ihwal buku-buku terbitannya, dan obrolan ringan. Bila sudah terbilang akrab, penerjemah/editor bersangkutan dapat langsung menyampaikan ketika ia siap berkarya kembali. Tentu dengan bahasa yang santun dan tidak mendesak, contohnya, “Saya ingin menerjemahkan lagi untuk ….(nama penerbit). Ada buku yang cocok, nggak?”

Hindari yang seperti ini, “Bagi orderan doong!” atau “Rindu job, nih, lagi nganggur.”

Catatan: Berusaha itu hak, bahkan wajib (dengan mematuhi etika yang berlaku), namun jawaban dan tanggapan editor/penerbit tentu terserah kepada yang bersangkutan:D

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

4 Responses for this article

  1. on
    October 3rd, 2011

    wah…seandainya saya dulu tahu…sudah terlambat mempraktekkannya belum ya? *mikir2*

    • admin rinurbad.com
      on
      October 3rd, 2011

      Silakan dicoba, Mbak:)

  2. on
    October 3rd, 2011

    Makasih artikelnya, Rin. Inspiratif buatku.

    • admin rinurbad.com
      on
      October 3rd, 2011

      Alhamdulillah. Makasih sudah baca ya, Lul.