Girl Who Played with Fire

January 02, 2011
20 secs

Di sini, figur Blomkvist dihadirkan lebih sendu. Hubungannya dengan  Erika Berger diperjelas, meski Erika sendiri menanyakan kelanjutan romansa Blomkvist dengan Salander. Mungkin karena pengaruh usia, di sini makin tampak bahwa Blomkvist benar-benar peduli pada Salander sedangkan gadis itu masih membentengi hati dari cinta.

Salander bertualang jauh, kembali untuk menjumpai bosnya, Dragan Armansky, serta mantan walinya, Palmgren. Profil Palmgren lebih kalem daripada yang saya bayangkan saat membaca bukunya, namun sama penyayang dan tegas. Amat mengharukan melihat Salander menyuapi mantan walinya ini, sementara di lain pihak Palmgren sangat melindungi gadis yang dikenalnya sedari kecil. Bahkan meski sudah lumpuh, ia berani mengusir orang yang tidak disukai.

Sesuai judul postingan ini, terbukti bahwa thriller dapat membuat hati terkoyak-koyak. Saya mengacungkan jempol untuk air muka sedih Blomkvist kala menonton rekaman Salander yang diperkosa Bjurman. Emosinya ‘dapet’.

Semoga film versi Hollywood-nya sesetia versi Swedia ini (walaupun ragu). Yah, seperti kata Gemuruh, keponakan saya, “Kalau nonton ya nonton aja, jangan pake baca. Baca nggak usah nonton, pasti kuciwa.”

Editor

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.